Sebelum membahas mengenai karakteristik perkembangan kemandirian dan karier pada anak dan remaja secara lebih jauh tentu kita harus mengetahui definisi perkembangan itu sendiri, menurut Akhmad Sudrajat (2008), “Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan-perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya.” Sedangkan menurut Dr. Aminah Soepalarto, SpS Perkembangan adalah proses yang berlangsung sejak konsepsi, lahir dan sesudahnya, dimana badan, otak, kemampuan dan tingkah laku pada masa usia dini, anak-anak, dan dewasa menjadi lebih kompleks dan berlanjut dengan kematangan sepanjang hidup.” Dari dua definisi tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa perkembangan merupakan sebuah proses progresif berkesinambungan dalam pase kehidupan individu menuju kematangan hidupnya.
Dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “kemandirian” berasal dari kata mandiri yang berarti keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pada orang lain. Dan karier berarti keahlian (hobi dsb) yg diamalkan dalam masyarakat atau dijadikan sumber kehidupan; atau kemajuan dalam kehidupan; perkembangan dan kemajuan dalam pekerjaan,atau jabatan,
Setelah kita mengetahui definisi dari penggalan kata pertumbuhan, kemandirian, dan karier, maka mudah bagi kita untuk mengetahui definisi dari “Karakteristik Perkembangan Kemandirian dan karier Anak dan Remaja” yaitu, proses progresif menuju kematangan seorang individu dalam menjalani hidup dengan usaha dirinya sendiri dan kemampuannya dalam mengambil peran dalam kehidupan di masyarakat dalam fase anak dan remaja dan orientasinya di masa depan.
Uraian singkat dibawah ini akan membantu kita untuk lebih memahami materi tersebut.
A. Konsep Kemandirian
Menurut Hanna Widjajanti kemandirian menunjuk pada adanya kepercayaan akan kemampuan diri untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tanpa bantuan khusus dari orang lain, keengganan untuk dikontrol orang lain, dapat melakukan sendiri kegiatan-kegiatan, dan menyelesaikan sendiri masalah-masalah yang dihadapi.
Dalam pandangan Lerner (1976), konsep kemandirian (autonomy) mencakup kebebasan untuk bertindak, tidak tergantung kepada orang lain, tidak terpengaruh lingkugan dan bebas mengatur kebutuhan sendiri. Konsep kemandirian ini hampir senada dengan yang diajukan Watson dan Lindgren (1973) yang menyatakan bahwa kemandirian (autonomy) ialah kebebasan untuk mengambil inisiatif, mengatasi hambatan, gigih dalam usaha, dan melakukan sendiri segala sesuatu tanpa bantuan orang lain.
Sedangkan kemandirian yang menggunakan istilah autonomy, Steinberg (1995 : 285)mengkonsepsikan kemandirian sebagai self governing person, yakni kemampuan menguasai diri sendiri.
Kemandirian merupakan sikap dimana seorang individu mencoba menghadapi persoalan hidup dengan menggunakan caranya sendiri tanpa ada interpensi dari pihak eksternal, dan meminimalisir bantuan dari orang lain. Kemandirian juga dapat diartikan sebuah posisi dimana individu bebas mengatur hidupnya, dan menerima sendiri segala konsekuensi atas apa yang telah ia kehendaki. Dengan demikian individu mampu memetik hikmah dari setiap masalah yang ia hadapi, sehingga ia akan lebih matang dan siap dalam menjalani kehidupan yang keras dan penuh tantangan di masa depan. Sehingga seseorang bisa disebut pribadi/individu yang sepenuhnya, dalam arti mampu mengendalikan sendiri kehidupannya, baik dari aspek fisiologis dan psikologis.
B. Karakteristik Perkembangan Kemandirian Pada Anak Dan Remaja
Kemandirian (autonomy) merupakan salah satu tugas perkembangan yang fundamental pada tahun-tahun perkembangan masa kanak-kanak dan remaja. Steinberg (1995 :286) menegaskan, disebut fundamental karena pencapaian kemandirian pada anak dan remaja sangat penting artinya dalam kerangka menjadi individu dewasa bahkan pentingnya kemandirian diperoleh individu pada masa remaja sama dengan pentingnya pencapaian identitas diri oleh mereka.
Kemandirian harus mulai ditanamkan sejak usia dini agar kemudian anak mampu tumbuh menjadi individu yang mampu melakukan segala hal dengan kemampuan diri sendiri yang dominan, artinya anak mampu menyelesaikan suatu pekerjaan dengan sedikit atau tanpa bantuan orang lain. Merupakan suatu kebanggaan bagi para orang tua saat anaknya mampu melakukan segala hal sendiri, seperti memakai sepatu, berpakaina, makan tanpa disuapi, ataupun mengerjakan pekerjaan rumah.
Kemandirian, seperti halnya kondisi psikologis yang lain, dapat berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus dan dilakukan sejak dini. Latihan tersebut dapat berupa pemberian tugas-tugas tanpa bantuan, dan tentu saja tugas-tugas tersebut disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
Latihan kemandirian yang diberikan kepada anak harus disesuaikan dengan usia anak. Contoh: Untuk anak-anak usia 3 - 4 tahun, latihan kemandirian dapat berupa membiarkan anak memasang kaos kaki dan sepatu sendiri, membereskan mainan setiap kali selesai bermain, dll.
Seringkali orang dewasa beranggapan bahwa hal yang dikerjakan seorang anak itu tidak efisien dan memakan waktu yang lama, maka orang dewasa atau orang tua tidak membiarkan anak melakukan hal kecil sekalipun, seperti membuka bungkus permen, ini kegiatan yang sangat enteng bagi orang dewasa, tapi lain hal bagi anak kecil, bagi mereka ini merupakan perjuangan. Dan pemikiran inilah yang menghambat proses belajar anak dalam menumbuhkan kemandiriannya, hal kecil yang seharusnya menjadi latihan kemandirian anak diambil alih oleh orang dewasa, sehingga dalam perkembangannya anak akan selalu minta bantuan orang dewasa untuk melakukan hal tersebut. Bukanlah merupakan hal asing bagi kita menyaksikan anak berusia lima atau enam tahun yang masih belum bisa memakai pakaian sendiri, atau anak yang untuk makan saja masih harus disuapi oleh orang tuanya. Ini merupakan hasil dari keengganan orang tua dalam melatih anak mereka melakukan hal kecil yang akan membangun kemandiriannya kelak.
Sementara untuk anak remaja berikan kebebasan misalnya dalam memilih jurusan atau bidang studi yang diminatinya, atau memberikan kesempatan pada remaja untuk memutuskan sendiri jam berapa ia harus sudah pulang ke rumah jika remaja tersebut keluar malam bersama temannya (tentu saja orangtua perlu mendengarkan argumentasi yang disampaikan sang remaja tersebut sehubungan dengan keputusannya). Dengan memberikan latihan-latihan tersebut (tentu saja harus ada unsur pengawasan dari orangtua untuk memastikan bahwa latihan tersebut benar-benar efektif), diharapkan dengan bertambahnya usia akan bertambah pula kemampuan anak untuk berfikir secara objektif, tidak mudah dipengaruhi, berani mengambil keputusan sendiri, tumbuh rasa percaya diri, tidak tergantung kepada orang lain dan dengan demikian kemandirian akan berkembang dengan baik.
Pendapat ini diperkuat oleh pendapat para ahli perkembangan yang menyatakan: "Berbeda dengan kemandirian pada masa anak-anak yang lebih bersifat motorik, seperti berusaha makan sendiri, mandi dan berpakaian sendiri, pada masa remaja kemandirian tersebut lebih bersifat psikologis, seperti membuat keputusan sendiri dan kebebasan berperilaku sesuai dengan keinginannya".
Dalam pencarian identitas diri, remaja cenderung untuk melepaskan diri sendiri sedikit demi sedikit dari ikatan psikis orangtuanya. Remaja mendambakan untuk diperlakukan dan dihargai sebagai orang dewasa. Hal ini dikemukan Erikson(dalam Hurlock,1992) yang menamakan proses tersebut sebagai “proses mencari identitas, atau pencarian diri sendiri. Dalam proses ini remaja ingin mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan, disamping ingin tahu tentang dirinyasendiri”.
Teman sebaya merupakan proses pertama dimana remaja mulai belajar berfikir dan bertindak mandiri, mengambil keputusan sendiri, menerima bahkan menolak ajakan teman sebayanya. Di lingkungan inilah permasalahan remaja mulai timbul, dan memerlukan pemecahan yang dihasilkan dari hasil usaha remaja sendiri, di lingkungan inilah remaja mulai melepas diri dari bantuan keluarga, karena mereka menganggap bahwa ini masalahnya sendiri.
Karakteristik Perkembangan Kemandirian Anak
1. Usia 1-2 tahun : anak mampu minum dari gelasnya sendiri tanpa tumpah, mulai makan sendiri dengan menggunakan sendok.
2. Usia 2-3 tahun : memberitahu orang dewasa kala ingin buang air
3. Usia 3-4 tahun : anak mampu ke kamar mandi sendiri
4. Usia 5-7 tahun : anak mampu berpakaian sendiri, mengikat simpul tali sepatu.
5. Usia 8-10 tahun :anak sudah mamapu membenahai peralatan pribadinya seperti menyiapkan buku sesuai jadwal pelajaran, mampu memenuhi kebutuhan sendiri seperti, memasaka mi instan saat orang orang tua tidak di rumah.
C. Tipe-tipe Perkembangan kemandirian Pada Anak dan Remaja
Perlu kita kita ketahui bahwa kemandirian dilihat dari beberapa aspek seperti yang dikemukakan oleh Havighurst (1972), yang menyatakan bahwa kemandirian memiliki beberapa aspek, yaitu:
1. Aspek Intelektual, yang merujuk pada kemampuan berpikir, menalar, memahami beragam kondisi, situasi, dan gejala-gejala masalah sebagai dasar usaha mengatasi masalah.
2. Aspek Sosial, berkenaan dengan kemampuan untuk berani secara aktif membina relasi sosial, namun tidak tergantung pada kehadiran orang lain di sekitarnya.
3. Aspek Emosi, menunjukkan kemampuan individu untuk mengelola serta mengendalikan emosi dan reaksinya, dengan tidak tergantung secara emosi pada orang tua.
4. Aspek Ekonomi, menujukkan kemandirian dalam hal mengatur ekonomi dan kebutuhan-kebutuhan ekonomi, dan tidak lagi tergantung pada orang tua.
Steinberg (1995 : 289) membagi kemandirian dalam tiga tipe, yaitu
kemandirian emosional (emotional autonomy), kemandirian behavioral (behavioral autonomy), dan kemandirian nilai (values autonomy).
1. Kemandirian Emosional
Kemandirian emosional dapat diartikan sebagai kemampuan individu dalam mengelola emosinya, seperti pemudaran ikatan emosional anak dengan orang tua. Percepatan pemudaran hubungan itu terjadi seiring dengan semakin mandirinya remaja dalam mengurus diri sendiri. Dalam analisis Berk (1994) konsekuensi dari semakin mampunya remaja mengurus dirinya sendiri maka waktu yang diluangkan orang tua terhadap anak semakin berkurang dengan sangat tajam. Proses ini sedikit besarnya memberikan peluang bagi remaja untuk mengembangkan kemandiriannya terutama kemandirian emosional. Disamping itu, hubungan antara anak dan lingkungan sebaya yang lebih intens dibanding dengan hubungan anak dengan orang tua menyebabkan hubungan emosional anak dan orang tua semakin pudar. Kedua pihak ini lambat laun akan mengendorkan simpul-simpul ikatan emosional infantil anak dengan orang tua (Steinberg, 1995 : 290). Namun ini bukan berarti anak akan mealukan pemberontakan terhadap orang tua, ini hanya masalah kedekatan yang berbeda, memudar bukan berarti pupus tak bersisa, walau bagaimanapun ikatan batin tetap akan terjalin antara anak dan orang tua.
Menurut Silverberg dan Steinberg (Steinberg, 1995 :291) ada empat aspek kemandirian emosional remaja, yaitu:
1. Sejauh mana remaja mampu melakukan de-idealized terhadap orang tua,
2. Sejauh mana remaja mampu memandang orang tua sebagai orang dewasa umumnya (parents as people),
3. Sejauh mana remaja tergantung kepada kemampuannya sendiri tanpa mengharapkan bantuan emosional orang lain (non dependency), dan
4. Sejauh mana remaja mampu melakukan individualisasi di dalam hubungannya dengan orang tua.
2. Kemandirian Behavioral
Kemandirian perilaku (behavioral autonomy) merupakan kapasitas individu dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan tanpa ada campur tangan dari orang lain. Tapi bukan berarti mereka tidak memerlukan masukan dari orang lain, mereka akan menggunakan maskukan tersebut sebagai referensi baginya dalam mengambil keputusan.
Menurut Steinberg (1993 : 296) ada tiga domain kemandirian perilaku
(behavioral autonomy) yang berkembang pada masa remaja.
Pertama, mereka memiliki kemampuan mengambil keputusan yang ditandai oleh
a. Menyadari adanya resiko dari tingkah lakunya,
b. Memilih alternatif pemecahan masalah didasarkan atas pertimbangan sendiri dan orang lain
c. Bertanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan yang diambilnya.
Kedua, mereka memiliki kekuatan terhadap pengaruh pihak lain yang ditandai oleh
a. Tidak mudah terpengaruh dalam situasi yang menuntut konformitas,
b. Tidak mudah terpengaruh tekanan teman sebaya dan orang tua dalam mengambil keputusan,
c. Memasuki kelompok sosial tanpa tekanan.
Ketiga, mereka memiliki rasa percaya diri (self reliance) yang ditandai oleh
a. Merasa mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari di rumah dan di sekolah,
b. Merasa mampu memenuhi tanggung jawab di rumah dan di sekolah,
c. Merasa mampu mengatasi sendiri masalahnya,
d. Berani mengemukakan ide atau gagasan.
3. Kemandirian Nilai
Kemandirian nilai (values autonomy) merupakan proses yang paling kompleks, tidak jelas bagaimana proses berlangsung dan pencapaiannya, terjadi melalui proses internalisasi yang pada lazimnya tidak disadari, umumnya berkembang paling akhir dan paling sulit dicapai secara sempurna dibanding kedua tipe kemandirian lainnya. Kemandirian nilai (values autonomy) yang dimaksud adalah kemampuan individu menolak tekanan untuk mengikuti tuntutan orang lain tentang keyakinan (belief) dalam bidang nilai.
D. Factor Yang Dapat Mempengaruhi Perkembangan Kemandirian Anak Dan Remaja
Kemandirian merupakan aspek yang berkembang dalam diri setiap orang, yang bentuknya sangat beragam, pada tiap orang yang berbeda, tergantung pada proses perkembangan dan proses belajar yang dialami masing-masing orang. Ada banyak factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandirian anak, namun ada beberapa factor yang sangat berperan banyak dalam membentuk kemandirian anak.
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kemandirian anak dan Remaja.
1. Gen atau keturunan orang tua. Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi seringkali menurunkan anak yang memiliki kemandirian juga. Namun, factor keturunan ini masih menjadi persebatan karena ada yang berpendapat bahwa sesunguuhnya bukan sifat kemandirian orang tuanya itu menurun kepada anaknya, melainkan sifat orang tuanya muncul berdasrkan cara orangtua mendidikanaknya.
2. Pola asuh orang tua. Orang tua yang terlalu banyak melarang atau mengeluarkan kata jangan kepada anaknya tanpa disertai dengan penjelasan yang rasional akan menghambat perkembangan kemandirian
3. Sistem pendidikan di sekolah. Proses pendidikan disekolah yang tidak mengembangkan demokrasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinisasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirianremaja.
4. Sistem kehidupan di masasyarakat. Sistem kehidupan masyarakat yang terlalu menekankan pentingnya hierarki struktur social, merasa kurang aman atau mencekam serta kurang mengahargai manifestasi potensu remaja dalam kegitan prosuktif dapat menghambat kelancaran perkembangan kemandirian remnja.
E. Konsep Karier
Karier sering diartikan sebagai pekerjaan atau profesi seseorang yang menghasilkan sesuatu dalam memenuhi kebutuhan hidup. Pekerjaan tidak serta merta merupakan karier. Kata pekerjaan (work, job, employment) menunjuk pada setiap kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa (Isaacson, 1985); sedangkan kata karier (career) lebih menunjuk pada pekerjaan atau jabatan yang ditekuni dan diyakini sebagai panggilan hidup, yang meresapi seluruh alam pikiran dan perasaan seseorang, serta mewarnai seluruh gaya hidupnya (Winkel, 1991). Maka dari itu pemilihan karier lebih memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang dari pada kalau sekedar mendapat pekerjaan yang sifatnya sementara waktu.
Mengingat betapa pentingnya masalah karier dalam kehidupan manusia, maka sejak dini anak perlu dipersiapkan dan dibantu untuk merencanakan hari depan yang lebih cerah, dengan cara memberikan pendidikan dan bimbingan karier yang berkelanjutan.
F. Orientasi Karier Pada Anak Dan Remaja
Pendekatan karier bagi anak dan remaja bukanlah proses dimana anak dibentuk menjadi seorang yang khusus menggeluti salah satu bidang, seperti bagaimana menjadi seorang insinyur, dokter ataupun petani. Tapi oreintasi karier pada anak dan remaja merupakan tahap dimana anak dan remaja dikenalkan dengan dunia yang akan digelutinya kelak.
Pemahaman anak mengenai cita-cita dan masa depan harus diarahkan sejak dini, sejak usia sekolah dasar anak harus digiring pada hal-hal yang mereka minati, sehingga tiap perkembangan usia dan tingkat intelektualnya anak tahu bidang apa yang akan dia tekuni selanjutnya. Sehingga proses pendidikan di sekolah akan diikuti dengan baik dan antusias, karena anak tau manfaat dari ilmu yang ia pelajari, dengan demikian sekolah mampu mencetak generasi berkualitas dan professional di bidangnya.
Dalam buku edisi revisinya Ginzberg dkk (1972) menegaskan bahwa proses pilihan karier itu terjadi sepanjang hidup manusia, artinya bahwa suatu ketika dimungkinkan orang berubah pikiran. Hal ini berarti bahwa pilihan karier tidaklah terjadi sekali saja dalam hidup manusia. Di samping itu Ginzberg juga menyadari bahwa faktor peluang/kesempatan memegang peranan yang amat penting. Meskipun seorang remaja sudah menentukan pilihan kariernya berdasar minat, bakat, dan nilai yang ia yakini, tetapi kalau peluang/kesempatan untuk bekerja pada bidang itu tertutup karena "tidak ada lowongan", maka karier yang dicita-citakan akhirnya tidak bisa terwujud. Dan pada akhirnya Tuhan-lah yang menentukan segalanya, manusia hanya berkemampuan untuk berusaha semampunya
G. Karakteristik fase perkembangan Karier Anak dan Remaja Berdasarkan Usia
Menurut Ginzberg, Ginsburg, Axelrad, dan Herma (1951)
perkembangan karier dibagi menjadi 3 (tiga) tahap pokok, yaitu:
1. Tahap Fantasi : 0 – 11 tahun (masa Sekolah Dasar)
Pada tahap ini anak mulai berfantasi mengenai cita-citanya, seperti berperan sebagai dokter, polisi, penyanyi dan lain-lain. Fantasi ini banyak dipengaruhi oleh lingkungannya baik itu di kehidupan nyata atau hanya sekedar melalui media, seperti televise ataupun internet. Pada tahap ini anak menentukan kariernya tanpa pertimbangan yang rasional.
2. Tahap Tentatif : 12 – 18 tahun (masa Sekolah Menengah)
Pada tahap tentatif anak mulai menyadari bahwa mereka memiliki minat dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Ada yang lebih berminat di bidang seni, sedangkan yang lain lebih berminat di bidang olah raga. Demikian juga mereka mulai sadar bahwa kemampuan mereka juga berbeda satu sama lain. Ada yang lebih mampu dalam bidang matematika, sedang yang lain dalam bidang bahasa, atau lain lagi bidang olah raga.
Tahap tentatif dibagi menjadi 4 (empat) sub tahap, yakni:
a. Sub tahap Minat (11-12 tahun)
anak cenderung malakukan pekerjaan-pekerjaan atau kegiatan-kegiatan hanya yang sesuai dengan minat dan kesukaan mereka saja.
b. Sub tahap Kapasitas kemampuan (13-14 tahun)
Anak mulai melakukan pekerjaan/kegiatan didasarkan pada kemampuan masing-masing, di samping minat dan hobinya
c. Sub tahap Nilai (15-16 tahun)
Anak sudah bisa membedakan mana kegiatan/pekerjaan yang dihargai oleh masyarakat, dan mana yang kurang dihargai
d. Sub tahap Transisi (17-18 tahun)
Anak sudah mampu memikirkan atau "merencanakan" karier mereka berdasarkan minat, kamampuan dan nilai-nilai yang ingindiperjuangkan.
3. Tahap Realistis : 19 – 25 tahun (masa Perguruan Tinggi)
Pada usia perguruan tinggi (18 tahun ke atas) remaja memasuki tahap reasiltis, di mana mereka sudah mengenal secara lebih baik minat-minat, kemampuan, dan nilai-nilai yang ingin dikejar. Lebih lagi, mereka juga sudah lebih menyadari berbagai bidang pekerjaan dengan segala konsekuensi dan tuntutannya masing-masing. Oleh sebab itu pada tahap realistis seorang remaja sudah mampu membuat perencanaan karier secara lebih rasional dan obyektif.
Sedangkan menurut Donald Super perkembangan karier manusia dapat dibagi menjadi 5 (lima) fase, yaitu:
1. Fase pengembangan (Growth) yang meliputi masa kecil sampai usia 15 tahun.
Dalam fase ini anak mengembangkan bakat-bakat, minat, kebutuhan, dan potensi, yang akhirnya dipadukan dalam struktur konsep diri (self-concept structure);
2. Fase eksplorasi (exploration) antara umur 16-24 tahun, di mana saat ini remaja mulai memikirkan beberapa alternatif pekerjaan tetapi belum mengambil keputusan yang mengikat;
3 Fase pemantapan (establishment), antara umur 25 – 44 tahun. Pada fase ini remaja sudah memilih karier tertentu dan mendapatkan berbagai pengalaman positif maupun negatif dari pekerjaannya. Dengan pengalaman yang diperoleh ia lalu bisa menentukan apakah ia akan terus dengan karier yang telah dijalani atau berubah haluan.
4 Fase pembinaan (maintenance) antara umur 44 – 65 tahun, di mana orang sudah mantab dengan pekerjaannya dan memeliharanya agar dia bertekun sampai akhir;
5 Fase kemunduran (decline), masa sesudah pensiun atau melepaskan jabatan tertentu. Dalam fase ini orang membebaskan diri dari dunia kerjaformal.
Ginzberg dan Donald Super, memberi petunjuk yang jelas bagi kita bahwa karier adalah permasalahan sepanjang hidup. Maka ada pepatah yang mengatakan bahwa karier itu merupakan persoalan sejak lahir sampai mati 'from the birth unto the death' atau 'from the womb to tomb' (dari kandungan sampai kuburan). Sekarang sampailah pada persoalan pokok, yakni bagaimanakah membantu anak-anak untuk sejak dini merencanakan karier mereka di masa depan? Tentunya pihak orang tua dan lembaga sekolah sangat berandil besar dalam mengenalkan anak pada impiannya dan membantu mereka demi mencapai impian tersebut.
H. Factor yang Dapat Mempengaruhi Perkembangan Karier Anak dan Remaja
Factor yang mempengaruhi perkembangan karier anak dan remaja dibagi menjadi dua bagian:
1. Faktor Internal
a. Motivasi dalam diri anak sendiri
b. Kesadaran anak pada kemampuan dan minat yang dimiliki
2. Faktor Eksternal
a. Keluarga.
b. Pendidikan Sekolah.
c. Lingkungan sekitar, baik itu teman sebaya ataupun media informasi
1. PERKEMBANGAN BAHASA ANAK DAN REMAJA
1. Pengertian Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa dapat diartikan meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik dengan lisan, tulisan, maupun menggunakan isyarat dan symbol, dalam konteks usaha seseorang agar dapat mengerti maksud orang lain dan dimengerti orang lain.
2. Karakteristik Perekembangan Bahasa Anak dan Remaja
Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, artinya factor intelektual sanngat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Bayi yang tingkat intelektualnya masih belum berkembang belum mampu mengatakan kata tak bermakna sama sekali, namun seiring perkembangannya bayi mampu berbahasa mulai dari hal yang sederhana berupa bunyi-bunyian yang belum bermakna sampai kalimat kompleks, dimana pembelajaran bahasa baru akan dimulai pada usia 6-7 tahun, disaat anak mulai bersekolah.
Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang. Bahasa remaja banyak dipengaruhi oleh situasi lingkungannya. Seperti teman sebaya, yang interaksinya terjalin lebih intens, sehingga bahasa yang digunakan untuk berkomunikasinya pun disesuaikan dengan bahasa teman seusianya. Disamping itu sekolah juga memberikan kontribusi dalam perkembangan bahasa remaja, di sekolah remaja dididik agar mampu memilah bahasa yang baik dan sesuai kondisi dan penggunaannya. Bahasa remaja juga dibentuk oleh keluarga, keadaan keluarga yang tingkat ekonominya rendah dan buta huruf akan cenderung menggunakan bahasa pasar, lain halnya dengan remaja yang tinggal di keluarga yang berada.
3. Factor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
1. Umur anak
2. Kondisi lingkungan
3. Kecerdasan anak
4. Status social ekonomi keluarga
5. Kondisi fisik
4. Pengaruh Kemampuan Berbahasa Terhadap Kemampuan Berpikir, Perkembangan Kemandirian dan Karier
Kemampuan berbahasa dan berfikir berkaitan sangat erat, seseorang yang kemampuan berfikirnya rendah tidak akan mampu menyusun kalimat yang rapih, baik, dan logis, orang yang kemampuan berbahasanya rendah akan sulit dalam mengutarakan gagasannya dengan benar, dengan demikian hubungan sosialnya pun akan terhambat. Kondisi ini akan merambat pada situasi kemandirian dan karier anak kedepannya. Seseorang yang kemampuan berbahasanya rendah, akan selalu memerlukan seseorang yang dekat dengannya sebagai penerjemah, atau sebagai perantara dalam berkomunikasi dengan orang lain, maka perkembangan kemandiriannyapun akan berjalan lambat. Demikian pula dengan perkembangan karier, kemampuan berbahasa yang baik akan memudahkan seseorang dalam merancang cita-cita di masa depannya kelak, meski tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang tumbuh kembang bahasanya rendahpun mampu menjadi orang sukses kedepannya.
Rabu, 01 Juni 2011
Kamis, 28 Oktober 2010
Patahan Lembang, Bencana yang menunggu “KUN!! FAYAKUN”
Tim riset dari Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia mendapatkan bukti patahan aktif itu diperkirakan pernah mengguncang cekungan Bandung dengan kekuatan 7 skala richter.Patahan adalah retakan pada kulit bumi dengan dua sisi bergerak berlainan arah serta berpotensi menimbulkan gempa. Patahan Lembang membentang dalam bentuk bukit di utara Kota Bandung dengan panjang sekitar 22 kilometer. Bahayanya, kini di atasnya berdiri ribuan bangunan.
Seorang peneliti dari pusat penelitian geoteknologi LIPI, Eko Yulianto mengatakan, patahan Lembang sepanjang 20-25 kilometer kemungkinan pernah bergerak bersamaan. Selip vertikalnya di dalam tanah patahan ada yang ditemukan sepanjang 70-80 sentimeter. "Kalau (patahan) bergerak bersamaan bisa mendekati gempa 7 skala richter," katanya di sela seminar mitigasi bencana di UPI Bandung, Selasa (11/5). Pergerakan patahan ini diperkirakan sekitar 400-700 tahun sekali, dan aktivitas terakhir patahan Lembang ini sekitar 500 tahun yang lalu. Nah lho, tidak menutup kemungkinan patahan tersebut kembali bergerak.
Menurut Brian Atwater, paleoseismolog dari United States Geological Survey (USGS), ancaman bencana Patahan Lembang termasuk kategori kelas dunia karena patahan itu berada di dekat kawasan kota yang sangat padat. Hal yang jarang terjadi di dunia.
Dari hasil itu, Eko yakin patahan Lembang masih aktif. Karena itu, tim masih perlu mendapatkan tambahan data lagi dari lubang dengan kedalaman 30 meter. Lubang riset pun akan diperbanyak karena diduga, patahan Lembang juga bergerak terpotong-potong atau dalam segmen tertentu. Patahan Lembang bergerak karena dorongan lempeng Indo Australia dari selatan dan tertahan lempeng Eurasia dari utara seperti halnya di Sumatera. Karena tak kuat menahan desakan, patahan itu akan melenting dan menimbulkan gempa. Temuan menarik lainnya, patahan itu juga memicu aktivitas perut Gunung Tangkuban Parahu. Selama ini, asumsinya terbalik. "Selama ini ternyata titik-titik pusat gempa di dekat patahan Lembang itu plotnya di sekitar Gunung Tangkuban Parahu," katanya. Fakta itu dikuatkan oleh riset tim geodesi Institut Teknologi Bandung yang dipimpin Sri Widiantoro.
Karena masih belum ada alat yang dapat menditeksi adanya bencana, yang dapat dilakukan oleh pemerintah setempat hanyalah memitigasi bencana. Masih belum terbayang, bila patahan tersebut sedikit bergoyang, hancurlah UPI, bahkan indahnya Bandung hanya cerita. Jadi keingetan surat Al-Zalzalah,
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat”(99:1), gempa 7 sekala richter. “Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya.”(99:2), dan gempa tersebut berpotensi memicu gn. Tangkuban Perahu meletus. “Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?” pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan itu kepadanya (bumi)” (99:3-5). Intinya, Patahan Lembang tinggal menunggu Tuhan berkata “Kun” maka dengan segera fayakun, terjadilah. Ih, ngeri.
(Berbagai sumber)
Seorang peneliti dari pusat penelitian geoteknologi LIPI, Eko Yulianto mengatakan, patahan Lembang sepanjang 20-25 kilometer kemungkinan pernah bergerak bersamaan. Selip vertikalnya di dalam tanah patahan ada yang ditemukan sepanjang 70-80 sentimeter. "Kalau (patahan) bergerak bersamaan bisa mendekati gempa 7 skala richter," katanya di sela seminar mitigasi bencana di UPI Bandung, Selasa (11/5). Pergerakan patahan ini diperkirakan sekitar 400-700 tahun sekali, dan aktivitas terakhir patahan Lembang ini sekitar 500 tahun yang lalu. Nah lho, tidak menutup kemungkinan patahan tersebut kembali bergerak.
Menurut Brian Atwater, paleoseismolog dari United States Geological Survey (USGS), ancaman bencana Patahan Lembang termasuk kategori kelas dunia karena patahan itu berada di dekat kawasan kota yang sangat padat. Hal yang jarang terjadi di dunia.
Dari hasil itu, Eko yakin patahan Lembang masih aktif. Karena itu, tim masih perlu mendapatkan tambahan data lagi dari lubang dengan kedalaman 30 meter. Lubang riset pun akan diperbanyak karena diduga, patahan Lembang juga bergerak terpotong-potong atau dalam segmen tertentu. Patahan Lembang bergerak karena dorongan lempeng Indo Australia dari selatan dan tertahan lempeng Eurasia dari utara seperti halnya di Sumatera. Karena tak kuat menahan desakan, patahan itu akan melenting dan menimbulkan gempa. Temuan menarik lainnya, patahan itu juga memicu aktivitas perut Gunung Tangkuban Parahu. Selama ini, asumsinya terbalik. "Selama ini ternyata titik-titik pusat gempa di dekat patahan Lembang itu plotnya di sekitar Gunung Tangkuban Parahu," katanya. Fakta itu dikuatkan oleh riset tim geodesi Institut Teknologi Bandung yang dipimpin Sri Widiantoro.
Karena masih belum ada alat yang dapat menditeksi adanya bencana, yang dapat dilakukan oleh pemerintah setempat hanyalah memitigasi bencana. Masih belum terbayang, bila patahan tersebut sedikit bergoyang, hancurlah UPI, bahkan indahnya Bandung hanya cerita. Jadi keingetan surat Al-Zalzalah,
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat”(99:1), gempa 7 sekala richter. “Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya.”(99:2), dan gempa tersebut berpotensi memicu gn. Tangkuban Perahu meletus. “Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?” pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan itu kepadanya (bumi)” (99:3-5). Intinya, Patahan Lembang tinggal menunggu Tuhan berkata “Kun” maka dengan segera fayakun, terjadilah. Ih, ngeri.
(Berbagai sumber)
Patahan Lembang, Bencana yang menunggu “KUN!! FAYAKUN”
Tim riset dari Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia mendapatkan bukti patahan aktif itu diperkirakan pernah mengguncang cekungan Bandung dengan kekuatan 7 skala richter.Patahan adalah retakan pada kulit bumi dengan dua sisi bergerak berlainan arah serta berpotensi menimbulkan gempa. Patahan Lembang membentang dalam bentuk bukit di utara Kota Bandung dengan panjang sekitar 22 kilometer. Bahayanya, kini di atasnya berdiri ribuan bangunan.
Seorang peneliti dari pusat penelitian geoteknologi LIPI, Eko Yulianto mengatakan, patahan Lembang sepanjang 20-25 kilometer kemungkinan pernah bergerak bersamaan. Selip vertikalnya di dalam tanah patahan ada yang ditemukan sepanjang 70-80 sentimeter. "Kalau (patahan) bergerak bersamaan bisa mendekati gempa 7 skala richter," katanya di sela seminar mitigasi bencana di UPI Bandung, Selasa (11/5). Pergerakan patahan ini diperkirakan sekitar 400-700 tahun sekali, dan aktivitas terakhir patahan Lembang ini sekitar 500 tahun yang lalu. Nah lho, tidak menutup kemungkinan patahan tersebut kembali bergerak.
Menurut Brian Atwater, paleoseismolog dari United States Geological Survey (USGS), ancaman bencana Patahan Lembang termasuk kategori kelas dunia karena patahan itu berada di dekat kawasan kota yang sangat padat. Hal yang jarang terjadi di dunia.
Dari hasil itu, Eko yakin patahan Lembang masih aktif. Karena itu, tim masih perlu mendapatkan tambahan data lagi dari lubang dengan kedalaman 30 meter. Lubang riset pun akan diperbanyak karena diduga, patahan Lembang juga bergerak terpotong-potong atau dalam segmen tertentu. Patahan Lembang bergerak karena dorongan lempeng Indo Australia dari selatan dan tertahan lempeng Eurasia dari utara seperti halnya di Sumatera. Karena tak kuat menahan desakan, patahan itu akan melenting dan menimbulkan gempa. Temuan menarik lainnya, patahan itu juga memicu aktivitas perut Gunung Tangkuban Parahu. Selama ini, asumsinya terbalik. "Selama ini ternyata titik-titik pusat gempa di dekat patahan Lembang itu plotnya di sekitar Gunung Tangkuban Parahu," katanya. Fakta itu dikuatkan oleh riset tim geodesi Institut Teknologi Bandung yang dipimpin Sri Widiantoro.
Karena masih belum ada alat yang dapat menditeksi adanya bencana, yang dapat dilakukan oleh pemerintah setempat hanyalah memitigasi bencana. Masih belum terbayang, bila patahan tersebut sedikit bergoyang, hancurlah UPI, bahkan indahnya Bandung hanya cerita. Jadi keingetan surat Al-Zalzalah,
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat”(99:1), gempa 7 sekala richter. “Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya.”(99:2), dan gempa tersebut berpotensi memicu gn. Tangkuban Perahu meletus. “Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?” pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan itu kepadanya (bumi)” (99:3-5). Intinya, Patahan Lembang tinggal menunggu Tuhan berkata “Kun” maka dengan segera fayakun, terjadilah. Ih, ngeri.
(Berbagai sumber)
Seorang peneliti dari pusat penelitian geoteknologi LIPI, Eko Yulianto mengatakan, patahan Lembang sepanjang 20-25 kilometer kemungkinan pernah bergerak bersamaan. Selip vertikalnya di dalam tanah patahan ada yang ditemukan sepanjang 70-80 sentimeter. "Kalau (patahan) bergerak bersamaan bisa mendekati gempa 7 skala richter," katanya di sela seminar mitigasi bencana di UPI Bandung, Selasa (11/5). Pergerakan patahan ini diperkirakan sekitar 400-700 tahun sekali, dan aktivitas terakhir patahan Lembang ini sekitar 500 tahun yang lalu. Nah lho, tidak menutup kemungkinan patahan tersebut kembali bergerak.
Menurut Brian Atwater, paleoseismolog dari United States Geological Survey (USGS), ancaman bencana Patahan Lembang termasuk kategori kelas dunia karena patahan itu berada di dekat kawasan kota yang sangat padat. Hal yang jarang terjadi di dunia.
Dari hasil itu, Eko yakin patahan Lembang masih aktif. Karena itu, tim masih perlu mendapatkan tambahan data lagi dari lubang dengan kedalaman 30 meter. Lubang riset pun akan diperbanyak karena diduga, patahan Lembang juga bergerak terpotong-potong atau dalam segmen tertentu. Patahan Lembang bergerak karena dorongan lempeng Indo Australia dari selatan dan tertahan lempeng Eurasia dari utara seperti halnya di Sumatera. Karena tak kuat menahan desakan, patahan itu akan melenting dan menimbulkan gempa. Temuan menarik lainnya, patahan itu juga memicu aktivitas perut Gunung Tangkuban Parahu. Selama ini, asumsinya terbalik. "Selama ini ternyata titik-titik pusat gempa di dekat patahan Lembang itu plotnya di sekitar Gunung Tangkuban Parahu," katanya. Fakta itu dikuatkan oleh riset tim geodesi Institut Teknologi Bandung yang dipimpin Sri Widiantoro.
Karena masih belum ada alat yang dapat menditeksi adanya bencana, yang dapat dilakukan oleh pemerintah setempat hanyalah memitigasi bencana. Masih belum terbayang, bila patahan tersebut sedikit bergoyang, hancurlah UPI, bahkan indahnya Bandung hanya cerita. Jadi keingetan surat Al-Zalzalah,
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat”(99:1), gempa 7 sekala richter. “Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya.”(99:2), dan gempa tersebut berpotensi memicu gn. Tangkuban Perahu meletus. “Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?” pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan itu kepadanya (bumi)” (99:3-5). Intinya, Patahan Lembang tinggal menunggu Tuhan berkata “Kun” maka dengan segera fayakun, terjadilah. Ih, ngeri.
(Berbagai sumber)
Cekungan Bandoeng Riwayatmoe Doeloe
Bandung. Kota besar pusat sagala aya (segala tersedia), pusat dari segala wisata, Baik itu alam, kuliner, atau wisata belanja, semua lengkap tersedia. Begitu indah dan sejuk (iya, gitu??? Dibanding Cianjur mah, iya!), karenanya Bandung mendapat julukan Paris van Java. Tapi bagaimana rupa Bandung tempo “dulu”? (disini kita pake kata ‘dulu’ menurut orang geologi, ya!). Berikut penjelasnnya…
Puluhan juta tahun yang lalu dataran tinggi Bandung bukanlah merupakan daratan melainkan lautan. Kemudian sekitar sepuluh juta tahun yang lalu, terjadi proses pengangkatan kerak bumi sehingga kawasan in iberubah menjadi daratan. Proses tersebut juga diikuti dengan munculnya gunung-gunung berapi di daerah selatan atau utara, sehingga bentuk daerah ini berubah jadi cekungan Bandung.
Diantara gunung-gunung yang terbentuk, terdapat sebuah gunung besar, bernama Gunung Sunda. Gunung yang tingginya mencapai empat ribu meter dan diselimuti salju, yang kemudian 150 ribu tahun yang lalu gunung tersebut meletus hingga membentuk sebuah kaldera, yang dasar kaldera tersebut kini menjadi gunung Tangkuban Parahu. Saat itu muntahan Gunung Sunda menutupi areal yang sangat luas, aliran sungai Citarum purba juga ikut terbendung, mempercepat proses pembentukan danau, akhirnya cekungan terisi air dan dinamakan Danau Bandung Purba dengan ketinggian air mencapai 712,5 meter dari permukaan laut.
Enam belas ribu tahun silam aliran air Danau Bandung Purba menemukan jalan keluar dengan membobol dinding bagian barat cekungan. Sejak saat itu permukaan air danau mulai surut sampai ke dasarnya, hingga menyisakan rawa basah seperti rawa dan situ. Awalnya manusia memanfaatkan kawasan tersebut sebagai sumber air dan pembudidayaan ikan. Seiring berjalannya waktu cekungan Bandung berkembang menjadi daerah pemukiman penduduk.
Inilah Bandung sekarang, kawasan metropolitan, modern, pusat bisnis dan perindustrian. Semoga pembangunan kota Bandung kini tidak serta merta membangun, tapi juga menjaga. Tataplah indah Bandungku, seperti riwayatmu dulu.
Puluhan juta tahun yang lalu dataran tinggi Bandung bukanlah merupakan daratan melainkan lautan. Kemudian sekitar sepuluh juta tahun yang lalu, terjadi proses pengangkatan kerak bumi sehingga kawasan in iberubah menjadi daratan. Proses tersebut juga diikuti dengan munculnya gunung-gunung berapi di daerah selatan atau utara, sehingga bentuk daerah ini berubah jadi cekungan Bandung.
Diantara gunung-gunung yang terbentuk, terdapat sebuah gunung besar, bernama Gunung Sunda. Gunung yang tingginya mencapai empat ribu meter dan diselimuti salju, yang kemudian 150 ribu tahun yang lalu gunung tersebut meletus hingga membentuk sebuah kaldera, yang dasar kaldera tersebut kini menjadi gunung Tangkuban Parahu. Saat itu muntahan Gunung Sunda menutupi areal yang sangat luas, aliran sungai Citarum purba juga ikut terbendung, mempercepat proses pembentukan danau, akhirnya cekungan terisi air dan dinamakan Danau Bandung Purba dengan ketinggian air mencapai 712,5 meter dari permukaan laut.
Enam belas ribu tahun silam aliran air Danau Bandung Purba menemukan jalan keluar dengan membobol dinding bagian barat cekungan. Sejak saat itu permukaan air danau mulai surut sampai ke dasarnya, hingga menyisakan rawa basah seperti rawa dan situ. Awalnya manusia memanfaatkan kawasan tersebut sebagai sumber air dan pembudidayaan ikan. Seiring berjalannya waktu cekungan Bandung berkembang menjadi daerah pemukiman penduduk.
Inilah Bandung sekarang, kawasan metropolitan, modern, pusat bisnis dan perindustrian. Semoga pembangunan kota Bandung kini tidak serta merta membangun, tapi juga menjaga. Tataplah indah Bandungku, seperti riwayatmu dulu.
Cekungan Bandoeng Riwayatmoe Doeloe
Bandung. Kota besar pusat sagala aya (segala tersedia), pusat dari segala wisata, Baik itu alam, kuliner, atau wisata belanja, semua lengkap tersedia. Begitu indah dan sejuk (iya, gitu??? Dibanding Cianjur mah, iya!), karenanya Bandung mendapat julukan Paris van Java. Tapi bagaimana rupa Bandung tempo “dulu”? (disini kita pake kata ‘dulu’ menurut orang geologi, ya!). Berikut penjelasnnya…
Puluhan juta tahun yang lalu dataran tinggi Bandung bukanlah merupakan daratan melainkan lautan. Kemudian sekitar sepuluh juta tahun yang lalu, terjadi proses pengangkatan kerak bumi sehingga kawasan in iberubah menjadi daratan. Proses tersebut juga diikuti dengan munculnya gunung-gunung berapi di daerah selatan atau utara, sehingga bentuk daerah ini berubah jadi cekungan Bandung.
Diantara gunung-gunung yang terbentuk, terdapat sebuah gunung besar, bernama Gunung Sunda. Gunung yang tingginya mencapai empat ribu meter dan diselimuti salju, yang kemudian 150 ribu tahun yang lalu gunung tersebut meletus hingga membentuk sebuah kaldera, yang dasar kaldera tersebut kini menjadi gunung Tangkuban Parahu. Saat itu muntahan Gunung Sunda menutupi areal yang sangat luas, aliran sungai Citarum purba juga ikut terbendung, mempercepat proses pembentukan danau, akhirnya cekungan terisi air dan dinamakan Danau Bandung Purba dengan ketinggian air mencapai 712,5 meter dari permukaan laut.
Enam belas ribu tahun silam aliran air Danau Bandung Purba menemukan jalan keluar dengan membobol dinding bagian barat cekungan. Sejak saat itu permukaan air danau mulai surut sampai ke dasarnya, hingga menyisakan rawa basah seperti rawa dan situ. Awalnya manusia memanfaatkan kawasan tersebut sebagai sumber air dan pembudidayaan ikan. Seiring berjalannya waktu cekungan Bandung berkembang menjadi daerah pemukiman penduduk.
Inilah Bandung sekarang, kawasan metropolitan, modern, pusat bisnis dan perindustrian. Semoga pembangunan kota Bandung kini tidak serta merta membangun, tapi juga menjaga. Tataplah indah Bandungku, seperti riwayatmu dulu.
Puluhan juta tahun yang lalu dataran tinggi Bandung bukanlah merupakan daratan melainkan lautan. Kemudian sekitar sepuluh juta tahun yang lalu, terjadi proses pengangkatan kerak bumi sehingga kawasan in iberubah menjadi daratan. Proses tersebut juga diikuti dengan munculnya gunung-gunung berapi di daerah selatan atau utara, sehingga bentuk daerah ini berubah jadi cekungan Bandung.
Diantara gunung-gunung yang terbentuk, terdapat sebuah gunung besar, bernama Gunung Sunda. Gunung yang tingginya mencapai empat ribu meter dan diselimuti salju, yang kemudian 150 ribu tahun yang lalu gunung tersebut meletus hingga membentuk sebuah kaldera, yang dasar kaldera tersebut kini menjadi gunung Tangkuban Parahu. Saat itu muntahan Gunung Sunda menutupi areal yang sangat luas, aliran sungai Citarum purba juga ikut terbendung, mempercepat proses pembentukan danau, akhirnya cekungan terisi air dan dinamakan Danau Bandung Purba dengan ketinggian air mencapai 712,5 meter dari permukaan laut.
Enam belas ribu tahun silam aliran air Danau Bandung Purba menemukan jalan keluar dengan membobol dinding bagian barat cekungan. Sejak saat itu permukaan air danau mulai surut sampai ke dasarnya, hingga menyisakan rawa basah seperti rawa dan situ. Awalnya manusia memanfaatkan kawasan tersebut sebagai sumber air dan pembudidayaan ikan. Seiring berjalannya waktu cekungan Bandung berkembang menjadi daerah pemukiman penduduk.
Inilah Bandung sekarang, kawasan metropolitan, modern, pusat bisnis dan perindustrian. Semoga pembangunan kota Bandung kini tidak serta merta membangun, tapi juga menjaga. Tataplah indah Bandungku, seperti riwayatmu dulu.
Cinta punya DINAMIKA
Cinta punya DINAMIKA
Berubahkah aku??
Hanya bila ada sesuatu
terus aku pulang
pada sikap sebelum kuberubah
Hanya sekedar sesuatu
tak berapa lama bukti itu
jalan kutersendat dalam sikap dimana ku berubah
tuhan,,,
aku hanya manusia
mudah berubah lagi dalam sekejap
tuhan,,, aku ingin berubah dan kubertahan dalam perubahanku
Dalam hening ku bersenandung. Edcoustic, salah satu grup nasyid yang lama kugandrungi, liriknya sarat makna dan sesuai adanya hatiku kini. Berubah. Begitu lagu tersebut diberi tajuk. Dan akupun sama hendak berubah. Perkenalkan, namaku Dinamika Putri Aisyah, banyak orang bilang namaku unik. Panggil saja Dina. Yah, demikianlah ku diberi nama, sebagai doa dari kedua orang tua yang beberapa tahun ini jauh di mata. Semoga ku bisa jadi seperti namaku kini, Dinamika. Berarti bergerak dan selalu berubah pada bentuk yang lebih maju. Sering terasa berat miliki nama sebagus itu, karena Tak banyak yang istimewa dariku, hanya sebagai muslimah biasa, bener-bener biasa, standar saja, dengan tingkat keimanan standar, berkerudung standar, bercita-cita standar dan berusaha standar juga. Cuma parasku saja yang banyak dibilang di atas rata-rata, dan aku dengan senang hati setuju atas pendapat mereka. He
Banyak orang yang tak menyangka bahwa aku ini lulusan pesantren, di mata orang kebanyakan anak pesantren itu kerudungnya lebar, kemana-mana selalu memakai gamis atau minimal menggunakan rok. Tapi aku?? Masih setia dengan celana panjang, kerudung pas-pasan, dan baju yang sekedar menutup badan. Yah, mau bagaimana lagi, beginilah seorang Dina berpenampilan. Bukan ku tak tau seperti apa kriteria jilbab yang nyata dihimbau Al-quran dan Hadits. Tapi apa daya?? Belum ada niat kuat dan kehendak dahsyat untuk berubah. Namun walau bagaimana, manusia dikaruniai fitrah untuk condong pada kebaikan sejahat apapun orang itu. Begitupun dengan seorang Dinamika. Tak dapat berbohong, ada kedamaian saat kupandang teteh-teteh dengan jilbab lebar dan pakaian panjang, dengan suara lembut mereka menyapa, tertawa sekedarnya kemudian beristigfar, ada kecantikan lain yang berpijar di sosok mereka, jelita yang berbeda. Teduh.
Bukan hal yang sulit menjumpai kahwat-akwat di sekitarku, terang saja aku dulu tinggal di pondok pesantren. Gudangnya akhwat-akhwat dan orang-orang soleh-solehan, dan aku produk gagalnya. Hhmmm,, tetap saja masih terlalu jauh rasanya tuk seperti mereka.
“Tuh, Din. Kapan kamu mau kaya teh Susi?” canda seorang teman suatu kala.
Ku lirik sekejap si teteh berjilbab rapih yang masih lima meter jarak antaranya dan kami.
“Kapan ya?? Ntar kalo dah nikah meren?? Hahhahah..” jawabku diselangi kelekar.
Saat itu jam istirahat. Percakapan itu seperti angin lalu, namun sering kurenungi, tak jarang kubertanya dalam hati. Apa pantas aku pakai jilbab sepanjang itu? Aku kan tidak selembut mereka? Masih sering ku berkata kurang baik, masih sering ku larak-lirik lawan jenis, nanti dibilang so alim, malas aku kalau nantinya disindir temen-temen yang rese, “Cie,, tobat nieh??” dan masih ada berbagai alasan lain tuk berkilah.
Begitulah, sampai lulus aliah pun masih saja tak nampak ada perubahan. Stagnan. Namun perlahan berubah, terasa mengalir tenang namun pasti kemana bermuara. Saat ku merangkak mendekati-Nya, kemudian kubelajar berjalan menuju-Nya, sampai ku berusaha berlari mengejar-Nya.
***
“Din, kamu lulus!!” suara Mona seakan tak percaya.
“Beneran, Din! Liat neh!!” Pikiran Rakyat disodorkan di depan mataku, terlalu depan malah. Penasaran.
“Mana??”
“Tuh, Dinamika Putri Aisyah. No 74. Pend. Geografi UPI.” Ini mimpi.
“Ahh,,,!! Alhamdulillah..!!” teriaku saat mulai kukembalikan jiwa di alam nyata.
Ku cium bumi. Tersungkur sungguh penuh syukur, berhamdalah tiada henti. Ini kabar gembira paling membahagiakan seantero hati milikku. Jenjang pemburuan ilmu kan ku teruskan di rimba akademik Universitas Pendidikan Indonesia. Kampus indah, impian jadi nyata.
“Selamat ya? Bangga lah punya temen kaya kamu, Din!!” binar kebahagiaan terpancar tulus di raut wajah sahabatku ini. Sambil memelukku penuh haru.
“Ini berkat doa kamu juga, Mon!!” ku balas hangat pelukannya.
“Jadi orang Bandung tuh!!”
“ya lah,, tapi tenang aja,,, Cianjur tetap nomor satu, He!”
Sore yang indah, tak terlupakan. Karena sejak saat itu hatiku mulai tergetarkan.
***
Kesan pertama masuki gerbang bercemerlang Universitas pendidikan Indonesia adalah kemegahan. Rasa bangga dan suka cita. Langkah pertama ku kayuh penuh haru dan tak percaya. Tak hanya itu, masuki UPI tak ubahnya ku masuki gerbang pesantren dulu. Tiap lirikan mata selalu ada wanita-wanita surga dengan jilbabnya yang berkibar, bangga akan Islam dan apa yang dibawanya. Benar apa kata orang, UPI itu kampus bagus yang religius.
Setelah kemarin resmi jadi anak kos, diiringi doa dan bekal petuah orang tua, ku siap jalani hidup baru sebagai mahasiswa UPI, jurusan Pendidikan Geografi. Hampir semua keluarga dan sahabat mewanti-wanti agar ku tak salah langkah, kampus kadang-kadang buat akhlaq jadi tak bagus, pandai-pandailah memilih teman, begitu kata salah satu paman padaku. Dekatilah mesjid, karena ia hanya di datangi oleh orang-orang yang tak lupa pada Rabb-nya. Percayakah kalian dengan kekuatan doa?? Bila belum mulailah untuk percaya, Dan atas kekuatan doa menuntunku pada jalan-Nya yang nyata.
Registrasi mahasiswa baru kala itu ku jumpa dengan guide pertama dalam jalan perubahanku. Raihana. Gadis yang baik, dan dia seorang akhwat. Parasnya manis dan anggun. Dia teman baruku yang pertama. Karena sama-sama maru di jurusan pend. Geografi kami sering pergi kemana-mana berdua, kebetulan tugas ospek kami tak sedikit, kami jadi sering pergi ke sana-sini bersama. Obrolan hangat dengan sendirinya terjalin akrab, tentang keluarga, kenapa masuk UPI, dan ya begitulah, yang namanya ngobrolkan sering tak berjudul. Dan,,,
“Eh, kamu lulusan pesantren ya, Na?” tanyaku.
“Ga, aku nak SMA di Majalengka.” Polos. “Kamu SMA mana, Din?”
“Aku di aliah, say?” jawabku datar.
Sedikit membelalakan matany, Hana hanya bilang, “Oh,,,” mungkin dia heran kenapa penampilan kami seperti terbalik, aku yang harusnya berpenampilan rapih dengan jilbab panjang dan berok manis malah berjins dan berkemeja standar, pake kerudung tipis yang kurang paripurna menutup aurat (Baca: kerudung paris). Sedang Hana berpenampilan sama dengan teman-teman ku di pesantren dulu.
“Na, aku kadang suka heran, kadang-kadang anak SMA itu melebihi anak pesantren.” ujarku padanya.
“Hmm, maksudnya gimana?? Lebih apanya??”
“Iya, kadang-kadang kami lebih cuek dibanding kalian dalam hal berbusana. Kadang-kadang kalian lebih rapih dalam berjilbab daripada kami. Contohnya kita.”
“Oh,,, itu hanya dalam tampilan saja. Padahal aku khususnya, masih sedikit tau tentang agama, beda jauh dong sama kalian.”
“Nah itu keheranan ku. Sebagian kami yang sedikit-banyaknya tau mengenai agama malah berpakaian seadananya. Sedangkan kalian lebih ‘waw’ dibanding kami.”
“Banyak yang bilang kami itu kaya muallaf.” Kening ku kerutakan tanda kurang paham pada jawaban Hana barusan.
“Ya, muallaf yang udah muslim, yang asalnya kami buta hijab trus dapet hidayah lagi untuk menutup aurat, hati kami tergerak untuk sempurna dalam berjilbab. Ga nanggung.”
Aku diam. “Din, kenapa?? Maaf!! Omonganku ada yang salah, ya?”
“Ih… ga apa-apa kok, Na!.. aku Cuma lagi mikir aja, omongan kamu ada benarnya.”
“MMhhh,,, bikin was-was aja. Kamu juga dah bagus kok, yang penting menutup aurat”
Ya, betul yang penting menutup aurat. Begitu fikirku. Ada yang kontra. Hatiku seperti digedor. Ada yang salah.
Perbincanganku dengan Hana memmbuatku berfikir. Ku tafakuri kembali Quran surat An-Nur ayat 31. Kuhafal di luar kepala, tapi orang lainlah yang mengamalkannya. Kekalahan, merupakan suatu kemunduran bagiku.
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasannya,,, (Q.S. An-Nur:31)
Astagfirullah, ampun aku ya Rabb… sedikit demi sedikit ku berevolusi, ku usahakan semampuku untuk tak lagi mengenakan celana panjang saat ke luar rumah. Untung persediaan rok milikku lumayan banyak, kebetulan pesatren kami dulu tak menghendaki santrinya memakai celana, atau pakaian yang menyerupai laki-laki lainnya.
Hana mengenalkanku pada banyak temannya, para wanita surga dengan jilbab panjang sebagai mahkotanya, di dekat mereka aku tenang, selalu ada kesejukan dalam setiap canda gurau kami. Ku diajak mengikuti berbagai kegiatan di mesjid. Ada sedikit rasa minder menghantuiku, serasa jadi aneh, berada diantara jilbaber sedangkan aku hanya berkerudung standar.
“Ih,, Dina mah malu bareng kalian teh!”
“Oh,, punya malu? Kirain lupa naro? Hehehe! ‘Afwan, ya? Kidding!!” canda Hana menggodaku.
“Ih,,, dasar!” kucubit lengannya yang tak berdaging.
“Malu kenapa gitu, Din?” tanya Balebat pada ku.
“Tuh, liat! Kerudung kalian panjang-panjang, aku?” kuakui.
“Ya ga apa-apa atuh! Jadi diri sendiri aja, iya ga?” Balebat minta persetujuan.
“Betul, betul, betul!” kata Hana sepakat.
Kami berbincang di pelataran mesjid kebanggaan, Al-Furqan. Ada seberkas cahaya, bawa hatiku terus bergerak dekati ridlo Ilahi.
***
Sendari tadi kumematut diri, di depan cermin yang dari tadi ada aku di dalamnya, aku yang ingin jadi baru. Tak ada yang kebetulan dalam dunia ini, semua telah dirancang sempurna oleh Pemilik Alam Raya, Dialah Penulis skenario kehidupan tiap manusia di jagat. Kerudung-kerudung yang kubeli dulu, yung ku sesali itu karena mereka terlalu kecil untukku. Meski aku tak begitu idealis masalah jilbab, tatap saja aku takan mau bila harus memakai kerudung yang tidak menutupi pundak. Karena ingin kuatku untuk berubah, ku jadikan kerudung imut tadi sebagai lapis dari kerudung-kerudung tipis yang sering kupakai kemarin, sehingga mereka tak lagi transparan, takkan ada bayangan leher saat cahaya mentari soroti aku secara langsung, ku juntaikan kerudung melebihi dari biasanya, kukenakan gamis manis yang lama tak kupakai, manset yang kemarin kubeli kukenakan di tiap pergelangan tanganku, kaos kaki senada juga tutupi kaki-kaki ku. Inilah aku yang baru. Sekali lagi kubercermin. kubacakan doa itu setulus hati. Ku tersenyum pada bayangan yang ada disana, dengan membaca Bismillah, dengan ini kusiap jalani hari.
Alam serasa ikut bersuka, mentari sambut hariku, udara sejuk segarkan raga, langkahku seakan ringan. Ini hari yang baru dalam lembar baru dan semangat perubahan kini lahir dalam jiwa Dinamika Putri Aisyah.
“Dina, subhanalla!” Sapa Hana di awal kami bersua.
“Cantik, ga?” iseng kutanya.
“Banget, Din!! Selamat, ya! Barakallahulak!”
“Amin, insyaallah.”
Kami berpisah karena kami memang beda kelas, aku kelas B dan Hana kelas A. Ku masuk kelas. Saat memasuki ruang kelas pun sama.
“Assalamu’alaikum, bu Ustadzah” sapa Dara padaku. Anak Palembang itu tersenyum manis menggoda.
“Dina,, cantik nian!” ujar Ineu padaku. Aku hanya bisa nyengir kuda.
Selalu ada ujian di tiap kenaikan tingkat, begitupun dalam perubahan ku. Jalan kebenaran tak akan selamanya sepi, ada ujian yang datang melanda, ada perangkap menuju mangsa. Dan ujian itupun datang. Saat jalan pulang pada Islam ingin segera ku sampai. Saat ingin segeraku teriakan ISLAM IS MY WAY… dengan mudahnya ku merubah, namun sulit kupertahankan.
Selalu ku berdoa dalam sujud tiap kali bersua dengan Tuhan dalam tiap solatku, selalu kumeminta pada-Nya. Rabby, inilah aku, hamba-Mu yang benar-benar lemah. Tak daya aku hidup tanpa bantuan dan kasih dari-Mu. Ku mohon hanya pada Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ampuni aku atas segala dosa yang telah ku perbuat, yang kecil atau yang besar yang ku ingat atau yang telah aku lupa. Aku hamba-Mu yang rapuh, maka ujilah aku dengan nikmat dan rizki-Mu, uji aku agar aku mau bersyukur. Janganlah uji aku dengan kefakiran hingga kudekati kekufuran. Dan tabahkan aku dalam setiap ujian itu.
Entah ini ujian yang indah atau apalah namanya. Rasa hati takkan pernah dusta. Ada seberkas rasa yang ku tau itu apa. Mungkin ku suka dirinya. Qolbu Ihsany, banyak kawan kami yang memanggilnya Kang Qolbu, angkatan 2008, campuran Bandung-Jambi. Lama di Bali. Setidaknya begitulah informasi yang kami dapat saat ospek jurusan kemarin. Begitulah, ia masih kalah ganteng dibanding kang Indra, masih kalah putih dibanding kang Izul, namun sosoknya benar-benar lelaki, tubuhnya tegap, tinggi 180-an, rambut ikalnya dipotong pendek, wajahnya bersih. Gayanya biasa saja, seperti anak geografi kebanyakan, celana PDL, kaos lengan pendek dengan kemeja tanpa dikancingkan. dan aku enak melihatnya. Tipe pria seperti itu yang kuimpikan. Uppss.
Satu yang tak ku lupa, ospek kemarin kami wajib ikut out bond, susur sungailah singkatnya. Takut. Asli aku phobia air, dulu aku coba-coba ikut Paserpal, Paguyuban Santeri pencinta Alam. Dalam perjalanan menuju tempat pelantikan anggota kami mau tidak mau harus menyebrangi sungai yang arusnya tak bisa dibilang tenang, awalnya aku sangat bernyali, namun derasnya air buatku ciut, seperti kerupuk yang disiram air bakso, langsung melempem. Ku coba raih tangan seorang teman namun tumpuaan sang kawan lemah, kami jatuh, kami berdua hanyut, aku bingung, hanya bisa menjerit sekuatnya, maut seakan ku masuki gerbangnya, timbul tenggelam, tubuh dibentur-benturkan ke batu oleh derasnya air, dingin merajang tiap syaraf yang ada dalam raga. Ku limbung, sampai akhirnya kupsarah, namun akhirnya pertolongan Sang Kuasa datang, Miska memang akhwat tangguh, ia berhasil gapai batang pohong pinggir sungai. Alhamdulillah kami selamat.
Dan beginilah aku sekarang, sedikit gemetar bila dengar arus sungai yang gemuruh, wajah agak pucat pasi bila harus lewati jembatan ayang agak tinggi, dan kaki seakan dipereteli saat suara itu mengomando kembali.
“Dipercepat jalannya!!” suaranya geram. “Di geografi kalian dilarang keras untuk manja! Lekas turun!!” begitu sang kaka senior bilang, kang Qalbu. Ku persilahkan mereka terlebih dulu. satu persatu teman satu tim ku mulai masuk ke air. Tinggal aku sendiri yang kakinya masih menapak di darat.
“Din, ayo cepet!” bujuk Hana sang ketua kelompok.
Ku belum cerita tentang phobia ku ini. Mungkin terlalu lama ku berfikir. “Hey, cepat!!” hardik sang senior kembali. Berat, langkahku berat, namun ku coba beranikan diri, ku masukkan kaki ke air, kami berjalan menyusuri sungai, sungguh benar-benar aku takut setengah mati. Bayangan masa lalu kembali, ini medan yang tidak mudah arus semakin deras, kaki semakin berat melangkah. Kami bergengaman erat. Meski kami tau ini perjalanan yang aman karena kami dipandu senior yang pasti selalu ada menjaga. Celakanya kakiku kram di tengah perjalanan. “Hey, kenapa diam?? Cepaaatt!!” katanya sedikit berteriak, suarnya harus berlomba dengan suara gemuruh deras sungai. Ku coba gerakan kaki namun gagal, malah semakin sakit, kakiku membatu, tak ada jalan lain, tak kuat ku mengis rasa takut yang semakin menggila. Ku mulai tak bisa jaga keseimbangan, setengah badan lebih ku mulai tenggelam di air
“Dina,,, hati-hati!! kenapa? Ayo jalan terus?”
“Kaki aku sakit, ga bisa gerak, hiks!” jawabku campur isak.
Isakan ku makin hebat. Dia datang, sang senior datang. “Kenapa?” tanyanya tegas.
“Kaki Dina sakit kang, kram mungkin” seorang kawan menjelaskan.
“To, bantuin, To! Suyanto… buruan!!” hawatir. tugas menjaga tim pindah alih.
Aku dipapahnya ke tepi. Sampai di darat ku tak henti menangis. Takut masih dominasi diri. Kami hanya berdua. Karena akang yang satu lagi pergi memandu timku. Masih dalam keadaan mencekam.
“Dina,ya? Ga apa-apa kan?” tanyanya dengan suara tak setegas tadi. Ku hanya bisa mengangguk. “Kram, bukan?” ku jawab dengan anggukan, lagi. “yang kiri bukan? Sini kakinya saya cek dulu.” Pergelangan kaki dipegangnya, diputar sedikit dan dibengkokkan. “Aw,, aduh!!” kesakitan.
“untung ga terkilir! Lemesin aja dulu, Cuma kram!” ujarnya menenangkan. Seulas senyum tertangkap jelas, penanda ia baik, tak segarang biasanya. Buatku lebih tenang. “Tau ga nama A saipa?”. Ku memutar otak. “Ihsany,,, apa ya lupa?” jawabku cuek. “Qalbu Ihsany”
Begitulah ku mengenalnya. Awalnya biasa, tapi entahlah semua terjadi tanpa disadari, awalnya ku kagumi fisiknya, senang melihatnya dari jauh, mencarinya saat tak nampak ia di hari ku. suatu ketika ku tau dia ada, ku berkumpul dengan teman di loby, saat dia lewat pandanganya tak lurus kedepan, seakan sorotnya mencari aku, atau setidaknya pastikan bahwa itu benar-benar aku. Entahlah aku bingung. GR.
Sampai suatu hari, sedang asik ku sendiri ber-wifi-ria di UPI-Net. Duduk lesehan ditemani sekotak susu coklat. Ku buka facebook, sekedar mengecek dan tentu up-date status. He. Ada dua pemberitahuan, 5 permintaan teman, dan tiga pesan. Ku buka dan kubaca. Tanpa kusadar senyumku terkembang, jilbab merah jambu serasi dengan suasana hati. Penuh bunga dan berwarna-warni. Ihsany Qalbu, kang Qalbu nge-add aku?? Ih,, pucuk dicinta ulam pun tiba!! Segera ku-konfirm saja. Selang tak berapa lama ku baca pesannya…
Dina.. salam kenal, ya!!! ^_^
Obrolan lewat media maya pun berlangsung, tukeran no handphone dan kemudian kami semakin dekat. Ada perasaan bahagia saat terima pesan singkat dari kang Qalby. Entah setan apa yang rasuki aku, fikiran dan mentalku membisikan namanya selalu. Benarkah ini cinta?? Aku jatuh cinta pada seorang gagah bernama Qalbu Ihsany? Segera ku usir sangkaan itu, ku hanya kagumi hanya memuji. Itu saja, tak lebih.
Namun hati tak hanya miliki satu sisi. Terutama hatiku bersegi banyak. Satu sisi ku tak menafikan hadirnya rasa simpati dan kagumku pada kang Qalby, namun dilain pihak kini aku telah berubah, menjadi seorang yang bukan hanya menyandang namaku, tapi ku sandang Islam sebagai jalanku. Ku tak mungkin terus meracuni hati dengan menumbuhkan rasa cinta pada selain Dia. Ku harus malu dengan jilbabku yang sekarang panjang. Ku coba untuk melupakan, sang gagah yang selalu kuidamkan. Ku coba berlari dari rasa ini. Namun mengapa bayangan dia selalu ada di tiap hela nafas dan semakin ku pergi, seakan perasaannya padaku semakin menjadi.
Awalnya ku fikir hanya aku yang kaguminya, dulu kusangka hanya aku yang bersimpati. Kukira hanya pihaku saja yang mendambanya. Tapi setelah lama kami berkomunikasi. Akhirnya kusadari, ada getar dalam setiap pujiannya untukku, ada bahagia yang lain saat ia utarakan kekagumannya padaku. Ku semakin terjerat dalam perangkap yang kubuat sendiri. Perasaan yang seharusnya tak ku biarkan ada kini menjelma jadi raksasa yang buatku lupa pada Sang Kuasa. Ampun aku ya, Rabb.
Sampai nyata-nyata ia bicara. Di Sabtu sore yang berawan, ku ditemani Hana berjalan beriringan menuju loby barat. Disana ada kang Qalbu yang mananti kami, ku khususnya. Tak bermaksud apa, ia hanya ingin meminjamkan rapidonya padaku.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam, lama bener, De” begitu sapanya pada kami.
“He,, maaf, kang! Tadi nungguin Hana kuliah dulu” jawabku polos. Hana hanya senyum-senyum menggodaku.
“Ini rapido tea!” sambil menyodorkan sebuah kotak.
“Ga apa-apa Aku pake dulu, kang?” ia tersenyum dan mengangguk. Ia melihat Hana dan kemudian Hana pergi. Hatiku mulai deg-degan.
“Na mau kemana?”
“Ke toilet bentar ya, Din?” jawabnya sambil kabur.
Diam. Dan kemudian.
“A yang nyuruh Hana pergi dulu”
“Kenapa?”
“Pengen ngomongin hal penting aja sama kamu.” Jawabnya datar. Kami duduk berdampingan, tentu saja ada jarak. “Kenapa gitu, kang?”
“Boleh jujur?” ia menghirup nafas panjang.
Ku mengangguk tanda setuju. Sedikit jeda.
“Ga tau kenapa, pas pertama kali liat kamu, jadi keingetan terus sampe sekarang.” Deg. Ada yang tak beres disini.
“Aku sayang sama kamu, Din!”
Semakin bimbang, aku harus senang atau aku harus beristigfar? Ya, Allah… ada apa ini??
“Jadilah bagian dalam hatiku, jadilah teman ku dalam berbagi. Tuntun aku ke jalan-Nya dengan cintamu, Din!” there’s no sound.
“Aku mohon, Din!” wajahnya mengiba, tangguhnya pujaanku tak nampak lagi, seperti menguap bersama pintanya. Matanya penuh kepasrahan. Kesedihan terlukis jelas di bahasa tubuhnya. Tak sanggup harus bicara, fikiranku tumpul, ku seakan berdiri diantara tak tega dan antara konsistensi ku pada syariah. Bantu hamba-Mu yang sangat lemah ini… ku benar tak tau harus bagaimana, dalam kekacauan hati, mataku mulai panas, tak mampu kutahan. Sekejap ku diam dan sebelum airmata menganak sungai ku pergi, Hana baru kembali. Kuserahkan sekotak rapido tadi padanya, kemudian ku mulai berlari. Sambil biarkan mata ini menangis.
Dari kejauhan samar terdengar. Suara gagah itu memanggilku.
“Dina,,, Dinamika…!!”
Sendiri menyepi, melamun dalam renungan. Ada apa aku? Mungkin ku salah, mungkin ku tersesat, mungkin dan mungkin lagi. Oh Tuhan aku merasa… aku harus bagaimana? Apakah ku terima saja panah cintanya? Dia baik, wakil ketua BEM, punya bisnis sendiri, terbilang mahasiswa cerdas, dan ia begitu sempurna di mataku. Apa yang kurang? Tak ada. Toh aku kan masih remaja, wajarlah bila selalu ingin mencoba. Ini bukan pengalaman pertama ku berjalin kasih dengan kaum laki-laki. Asalkan tidak melampaui batas dan kami pun tidak akan macam-macam, kurasa ini sah-sah saja. Memang sih kang Qalbu bukan tipe-tipe ikhwan yang banyak ku kenal di UKDM. Yang bagus baca Al-Qurannya, yang tinggi ilmu agamanya. Tapi, bukankah ini bisa jadi ladang dakwah untukku. Bukankah suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk mendakwahkan kebenaran pada saudarnya? Tapi bukan demikian. Ini salah.
Ya, aku tau ini tidak benar. Tapi ini sulit. Seperti dua kutub magnet yang sampai kapanpun akan saling tarik-menarik. Ku seakan tak bisa menjauh dari kang Qalbu. Ku tak bisa jika harus tak me-reply sms darinya, ku tak bisa me-rejekc tiap ada telepon darinya. Dan ku tak bisa sembunyikan binar bahagia ku saat bertemu dengannya. Seperti kecanduan, tak bisa ku bila sehari ku tak berjumpa dengannya. Tiap ada waktu senggang kami sering berbincang. Entah itu tentang kuliah, UKM, masalah BEM, masalah agama, sampai kembali ia tanyakan.
“Jadi A ini sebagai apa buat kamu, Din?” jangan tanyakan itu, ku benci pertanyaan menjebak. Kenapa tak nikmati saja dulu kebersamaan kita? Melulu tanyaiku seperti itu buatku pusing. Ku hanya bisa menjawab dengan kebisuan.
“Dina, Jangan bikin A gantung kaya gini.” Sumpah, seperti ada jaringan benang yang mengatup mulutku. Kemudian ia beranjak kehadapanku. Posisi kita lurus berhadapan. Saat ku tegakkan kepala pandangan kami saling bertaut. Ku bisa lihat jelas iris matanya yang hitam pekat.
“Dina…?” dia menodongku dengan tunjukan pengibaannya padaku. Ku harus jawab apa? Tak bisa berbuat banyak. Ku hanya diam.
“Dina ada kuliah dulu, kang! Salamu’alaikum” langkah seribu adalah jurus terjitu saat itu.
“Wa’alaikumsalam” lirih jawabnya.
***
Akhirnya pulang juga. Baru saja pak Dede menutup kuliahnya, ponselku bergetar satu kali, ada sms artinya. Kang Qalbu.
Dah beres, Din? Dmn?
Ya, Masih d kelas… knp?
Ntar turun pake lift yg dket ruang kls km ,y?
Da pa ?
Please, Din.nurut j y!
Iya… iya…
Kubergegas pergi. Menuju pintu lift terdekat. Seperti biasa semua anak pasti menuju pintu lift yang sama. Pasti letih bila harus menuruni tangga dari lantai lima dengan tenaga sisa. Kami antri di salah satu pintu. Berdiri tepat di tengah, jadi saat pintu terbuka ku bisa langusng masuk, dan turun di kloter pertama. Tiga, empat,,, dan lima. Lantai lima. Pintu mulai terbuka. A Qalbu? Sedikit kaget. Sendirian, ngapain? Saat anak-anak lain hendak masuk.
“Tunggu” begitu perintahnya. Semua yang hendak masuk kembail ke posisi semula. Titelnya sebagai panitia ospek tergalak masih berpengaruh.
Kepalanya tertunduk, tiba-tiba membuka kancing kemejanya satu persatu. Aneh, ngapain si? bukan hanya aku, semua teman ku juga begitu. Hanya bisa memperhatikan, perlahan kami lihat tulisan di kaos yang ia pakai. Semua kancing sudah terlepas. Ia singkap dengan bangga, mengangkat kepalanya, tersenyum padaku dengan penuh arti.
DINAMIKA, I LOVE U…!!
Begitu tulisannya. Semua berdecak. Mereka semua ber-cie-cie-ria. Aku malu. Rasa melayang seperti di mimpi.
“Dina!” suaranya yang nge-bass buat aku makin deg-deg an ”Please, be my lady??”
Begitu katanya. Ku hanya terkaget-kaget. Riuh rendah semua kawan dan orang-orang menyaksikan terheran-heran.
“Cie,,, Dina… prikitiw,,,!!”
“Adeyyyy..”
“Terima aja, Din!”
“Iya. terima aja!”
“Terima… terima… terima…” begitu kata mereka saling bersahutan. Sambil bertepuk tangan. Aku malu setengah mati. Mungkin wajahku mulai bersemu merah sekarang.
Ku hanya bisa diam. Dan tiba-tiba seseorang menjorokkanku dari belakang. Hingga hampir saja ku jatuh, tapi tak terjadi. Kang Qalbu menangkap kedua lenganku. Makin ramai suara di luar. Ku yang mulai salting, Hendak keluar kembali. Namun pintu segera ditutup. Baru kali ini kami benar-benar berdua. Ya Allah, ampun!!
“Jadi gimana? Masih ragu? Hem?” tanyanya mempermainkanku.
“Malu-maluin, tau?”
“A berani malu cuma buat kamu”
“Iya,, tapi,,,” kata-kataku tak terselesaikan. Segera ia berdiri di hadapanku.
“Will you be my lady?” setelah semua yang ia lakukan untukku. masih sanggupkah ku menolak? Tuhan. bahkan imanku yang lemah ini masih harus Kau uji??
Ku hanya bisa diam, melihatnya sekilas, kurundukan kembali kepala kemudian tersenyum. Hatiku berbunga. Pintu lift segera terbuka. Segera kuberlari. Menjuah tuk tenangkan diri. Yang terlalu senang ini.
***
Di kosan ku hanya bisa melamun, senyum sendiri saat ingat tragedy tadi. Kalau saja ada orang yang melihat, pasti disangkanya aku orang tak waras. Sungguh perempuan mana yang takkan kegirangan bila diberi kejutan gila seperti tadi?
BINGUNNNNNGGGGGGGGGGGGGGGG……………..!!!!
Di tengah keserba-salahan ponselku kembali berbunyi. Sms. Kali ini bukan dari lelaki gila bernama Qalbu.
Assalamu’alaikum adik2 geografi ’10. Mohon khadiranx ya dlm acara Keputrian jilid 3 dg tema “Ya, Allah Aku Jatuh Cinta…!!!” yg insayaAllah kan dlaksanakn hari Jum pukul 11.00 bsok d ruang 11-IV. Presensi berlaku, n kan mnambah nilai tutorial klian. Diantos pisan. Hatur nuhun!!!
Begitu sms jarkom dari Hana. Menarik. Emang aku masih punya nyali buat kuliah besok? Gimana besok saja lah. Semoga disana bisa kudapatkan jawaban untuk semua ini. Ya, semoga!
***
Dalam sujud ku menangis, dalam sesal ku kecewa, dalam sendiri kurenungi. Aku salah selama ini, ku dosa selama ini, ku terkalahkan nafsu. Ku mau pulang pada-Mu, ku mohon sucikan diriku. Mengapa setelah semua mekar baru kusadar, saat virus itu mulai menjangkit ku tak tahui. Ku terhanyut dalam badai perasaan. Perasaan yang seharusnya kuredam, perasaan yang seharusnya ku bungkam, malah ku agungkan, ku biarkan mengaung di relung-relung hatiku yang kosong, hingga hanya terisi suara-suara bayangan semu dan buat hatiku jadi batu terhadap-Mu. Rabb,, bawa ku kembali di jalan-MU.
Setelah acara keputrian kemarin ku mulai berfikir, tidak sekedar merasa. Sang Maha Cinta benar telah menganugerahkan cinta sebagai fitrah, sebagai karunia seorang untuk mencinta dan dicinta, untuk tertarik dan simpatik, menyayangi dan mengasihi pada apapun dan siapapun. Itulah cinta. Namun tidak sekedar cinta. Banyak orang yang mencintai dengan baik, namun tak semua mampu mencintai dengan benar. baik dalam arti memberi cinta yang tak terkira pada siapa yang dicinta, dan mencintai dengan benar berarti karena Allah saja kita mencintai seseorang. Sepantasnya cinta hanya ditujukan pada Dia, pemilik segala yang ada di alam raya. Namun banyak manusia digelincirkan setan, hingga memandang cinta hanya dari kacamata syahwat, mendekatkan mereka pada zina, yang jelas hukumnya, laknat bagi pelakunya. Dan pendosa adalah orang yang selalu berusaha mencari pembenaran dalam setiap kesalahan. Apakah aku termasuk?? Menjadi pezina hati dan pezina mata. Astagfirullah.
“Na aku bingung. Mesti gimana ke dia?” keluhku pada Hana.
“Bicaralah jujur pada hati kecilmu, suara hati terdalam itu selalu benar, namun karena suaranya kecil, seringkali terkalahkan ego dan nafsu. Hingga manusia tak lagi turut nurani, fitrah manusia berada dalam kebenaranpun turut lenyap. Sebelum perasaannya semakin bertambah. Lebih cepat lebih baik, Din. ” hanya diam. Kujawab dalam hati Namun aku pun mencintainya. Hana segera yakinkan.
“Inget, Din. Cinta yang halal itu hanya setelah pernikahan.”
Ku buka jendela di dini hari, ku hirup udara basah dalam-dalam, dinginnya Cilimus kurasa sejuk, bergerak ku putar keran, mulai berwudlu, tuk hilangkan najis dan bersihkan hati. ku kembali pada Rabb ku, dalam sujud ku berazam. Tuk hanya mencintai Ilahi, yang hanya kan mencinta dan dicinta karena-Nya. Mulai dari sekarang kan ku lupakan perasaan itu.
Tak mudah. Cinta ibarat energi. Dalam ilmu fisika energy berarti daya sesuatu untuk melakukan usaha, ia tak dapat dimusnahkan hanya bisa diubah dan diarahkan, begitupun cinta, tak dapat lenyap sekejap, hanya bisa diarahkan dan diubah, akan dijadikan apa cinta sebagai energi, energi baikkah atau malah energi negative yang merusak? Ku coba sekuat tenaga. Tuk arahkan cinta yang belum sepatutnya itu pada yang benar. ku berusaha sekuatku, tak lagi membalas smsnya, tak lagi angkta panggilannya, dan saat ku tau dia ada ku kan pergi, bukan maksud memutus silaturahmi hanya ku takut, cinta itu kembali. Sama seperti waktu itu. Saat ku tau dia dekat, ku kan pergi menjauh, berbalik arah agar dia tak bisa melihatku. Namun ku gagal.
“Dina,,, dina…” dia memanggilku. Ku berjalan dengan cepat. Gagal. Langkah panjangnya mampu mengejarku.
“Dina, tungggu, Din!” kini ia ada dihadapanku.
Ku coba pergi, tapi dia membayangi. “Kamu kenapa si, Din? Akhir-akhir ini kamu beda, disms ga pernah dibales, ditelpon ga pernah diangkat, kamu kenapa? Kalo a punya salah, a minta maaf!” kasihan, pasti ia kebingungan.
“Maafin Dina, Kang? Bukan maksud Dina untuk memutus silaturahmi, hanya Dina khawatir”
“Khawatir kenapa, Din?” jawabnya memburu.
“Khawatir perasaan ini semakin menjadi, ini tidak benar Kang. Ada yang harus Dina cintai saat ini.” Wajahnya kebingungan.
“Maksud kamu apa? Siapa yang harusnya kamu cintai, hah?” sedikit meninggi nadanya, ada percik marah dalam suara.
“Allah yang harus Dina cintai saat ini. Sudah cukup Dina berdosa karena zina hati. biarkan Dina pergi kembali pada jalan cinta llahi Rabby.”
“Jadi Tuhan mengharamkan hamba-Nya mencintai? Tuhan tak sejahat itu, Din! Tuhan tak seegois kamu, melarang kebebasan seseorang tuk mencinta.”
“Tuhan memang tak melarang, tapi Tuhan punya jalan. Islam punya syariat. Di jalur mana seseorang halal mencintai lawan jenisnya. Akang pasti faham itu.”
“Baik kalau itu yang kamu mau. Terserah!!!” suaranya meninggi, tanda ia murka. ia berbalik arah, pergi menjauh tinggalkan ku sendiri di persimpangan jalan. Ingin kupanggil ia kembali dan memohon maaf. Atas apa yang telah kupilih. Lalu kuputuskan kemanakah ku melangkah.
Sejak saat itu, ku tak pernah berjumpa dengannya. Ia seperti menghilang. Lama kemudian baru ku tau dia kan tamatkan S1-nya di Jepang. Ku syukuri itu. Ku mulai merubah energi cinta itu menjadi energi perubahan, tak mudah dilupakan hingga aku harus cari kesibukan agar kumampu lupakan perasaan bersalah karena telah melukainya. Hingga akhirnya ku ikhlas jika sekalipun harus dibenci seorang Qalbu Ihsany, asalkan ridlo Ilahi menyertai langkahku.
Mulai sekarang ku harus mengubah peta hidup. Ku tak ingin Dinamika yang standar, ku mau jadi pribadi yang dinamis, berubah dari standar jadi luar biasa. Ya, Dina yang baru adalah Dinamika sinergis dengan jalan-Nya. Dan kubertahan dalam perubahanku. Kuselalu mohon ampun atas segala keliru yang dulu. Dan berharap selalu agar seorang gagah disana mampu maafkan aku. Dalam harap tetap kuingin dia.
***
Satu tahun berlalu. Ku berusa tetap dikoridor-Nya. Ku nikmati Islam sebagai jalan hidupku. Ku tak pernah lupakan masa lalu. Biarkan ia jadi guru hidup, dan hikmah untuk masa depan.
Dua hari setelah ujian semester kemarin ibu menyuruhku pulang. Ibu bilang ibu kangen sekali padaku, disamping itu juga ada hal yang ingin ibu dan bapak bicarakan dengan ku. Senang hati aku segera berkemas dan mencari bus.
Dalam perjalanan aku sms beliau.
Bu, teteh berangkat. Mohon doa moga lancar sampe rumah. Tak ada balasan. Mungkin beliau sibuk. Dua puluh Lima menit kemudian ibu menelpon ku.
“Assalamu’alaikum…!”
“Wa’alaikum salam. Teteh lagi dimana?”
“Baru nyampe Padalarang, Bu!”
“Cepet pulang ya, teh. Ada kabar gembira. Heheheh” Ibu bilang dengan riang.
“Ada apa si, bu? Happy banget.”
“Kemaren ada yang datang ke rumah. Ngelamar teteh. Hehehhe”
“Hah?? Ih,,, ga mau ah!! Kuliah baru beres tingkat satu, itu juga belum, tentu lulus, Bu!.”
“Ih,,, jangan gitu atuh. Orangnya ganteng, pinter, mapan lagi! Katanya dia kaka tingkat teteh”
“hah? Siapa, bu?” heran, aneh dan berdebar-debar.
“Namanya,,, mmhhh,, Ihsany,,,” nafasku tertahan.
“Qalbu Ihsany.” Ku tak mampu berkata-kata. Mata berkaca-kaca. Kang Qalbu??
Dari jauh disana ibu memanggil-manggil. Namun tak hiraukan. Kembali ku bertasbih, berhamdalah dan beristigfar. Betapa indah rencana-Mu. Meski tak mudah, ditemani onak dan duri. Namun selalu berujung indah.
Allah hadiahkan kebahagiaan hanya untukku. Saat ku pilih Islam sebagai pedoman.
Berubahkah aku??
Hanya bila ada sesuatu
terus aku pulang
pada sikap sebelum kuberubah
Hanya sekedar sesuatu
tak berapa lama bukti itu
jalan kutersendat dalam sikap dimana ku berubah
tuhan,,,
aku hanya manusia
mudah berubah lagi dalam sekejap
tuhan,,, aku ingin berubah dan kubertahan dalam perubahanku
Dalam hening ku bersenandung. Edcoustic, salah satu grup nasyid yang lama kugandrungi, liriknya sarat makna dan sesuai adanya hatiku kini. Berubah. Begitu lagu tersebut diberi tajuk. Dan akupun sama hendak berubah. Perkenalkan, namaku Dinamika Putri Aisyah, banyak orang bilang namaku unik. Panggil saja Dina. Yah, demikianlah ku diberi nama, sebagai doa dari kedua orang tua yang beberapa tahun ini jauh di mata. Semoga ku bisa jadi seperti namaku kini, Dinamika. Berarti bergerak dan selalu berubah pada bentuk yang lebih maju. Sering terasa berat miliki nama sebagus itu, karena Tak banyak yang istimewa dariku, hanya sebagai muslimah biasa, bener-bener biasa, standar saja, dengan tingkat keimanan standar, berkerudung standar, bercita-cita standar dan berusaha standar juga. Cuma parasku saja yang banyak dibilang di atas rata-rata, dan aku dengan senang hati setuju atas pendapat mereka. He
Banyak orang yang tak menyangka bahwa aku ini lulusan pesantren, di mata orang kebanyakan anak pesantren itu kerudungnya lebar, kemana-mana selalu memakai gamis atau minimal menggunakan rok. Tapi aku?? Masih setia dengan celana panjang, kerudung pas-pasan, dan baju yang sekedar menutup badan. Yah, mau bagaimana lagi, beginilah seorang Dina berpenampilan. Bukan ku tak tau seperti apa kriteria jilbab yang nyata dihimbau Al-quran dan Hadits. Tapi apa daya?? Belum ada niat kuat dan kehendak dahsyat untuk berubah. Namun walau bagaimana, manusia dikaruniai fitrah untuk condong pada kebaikan sejahat apapun orang itu. Begitupun dengan seorang Dinamika. Tak dapat berbohong, ada kedamaian saat kupandang teteh-teteh dengan jilbab lebar dan pakaian panjang, dengan suara lembut mereka menyapa, tertawa sekedarnya kemudian beristigfar, ada kecantikan lain yang berpijar di sosok mereka, jelita yang berbeda. Teduh.
Bukan hal yang sulit menjumpai kahwat-akwat di sekitarku, terang saja aku dulu tinggal di pondok pesantren. Gudangnya akhwat-akhwat dan orang-orang soleh-solehan, dan aku produk gagalnya. Hhmmm,, tetap saja masih terlalu jauh rasanya tuk seperti mereka.
“Tuh, Din. Kapan kamu mau kaya teh Susi?” canda seorang teman suatu kala.
Ku lirik sekejap si teteh berjilbab rapih yang masih lima meter jarak antaranya dan kami.
“Kapan ya?? Ntar kalo dah nikah meren?? Hahhahah..” jawabku diselangi kelekar.
Saat itu jam istirahat. Percakapan itu seperti angin lalu, namun sering kurenungi, tak jarang kubertanya dalam hati. Apa pantas aku pakai jilbab sepanjang itu? Aku kan tidak selembut mereka? Masih sering ku berkata kurang baik, masih sering ku larak-lirik lawan jenis, nanti dibilang so alim, malas aku kalau nantinya disindir temen-temen yang rese, “Cie,, tobat nieh??” dan masih ada berbagai alasan lain tuk berkilah.
Begitulah, sampai lulus aliah pun masih saja tak nampak ada perubahan. Stagnan. Namun perlahan berubah, terasa mengalir tenang namun pasti kemana bermuara. Saat ku merangkak mendekati-Nya, kemudian kubelajar berjalan menuju-Nya, sampai ku berusaha berlari mengejar-Nya.
***
“Din, kamu lulus!!” suara Mona seakan tak percaya.
“Beneran, Din! Liat neh!!” Pikiran Rakyat disodorkan di depan mataku, terlalu depan malah. Penasaran.
“Mana??”
“Tuh, Dinamika Putri Aisyah. No 74. Pend. Geografi UPI.” Ini mimpi.
“Ahh,,,!! Alhamdulillah..!!” teriaku saat mulai kukembalikan jiwa di alam nyata.
Ku cium bumi. Tersungkur sungguh penuh syukur, berhamdalah tiada henti. Ini kabar gembira paling membahagiakan seantero hati milikku. Jenjang pemburuan ilmu kan ku teruskan di rimba akademik Universitas Pendidikan Indonesia. Kampus indah, impian jadi nyata.
“Selamat ya? Bangga lah punya temen kaya kamu, Din!!” binar kebahagiaan terpancar tulus di raut wajah sahabatku ini. Sambil memelukku penuh haru.
“Ini berkat doa kamu juga, Mon!!” ku balas hangat pelukannya.
“Jadi orang Bandung tuh!!”
“ya lah,, tapi tenang aja,,, Cianjur tetap nomor satu, He!”
Sore yang indah, tak terlupakan. Karena sejak saat itu hatiku mulai tergetarkan.
***
Kesan pertama masuki gerbang bercemerlang Universitas pendidikan Indonesia adalah kemegahan. Rasa bangga dan suka cita. Langkah pertama ku kayuh penuh haru dan tak percaya. Tak hanya itu, masuki UPI tak ubahnya ku masuki gerbang pesantren dulu. Tiap lirikan mata selalu ada wanita-wanita surga dengan jilbabnya yang berkibar, bangga akan Islam dan apa yang dibawanya. Benar apa kata orang, UPI itu kampus bagus yang religius.
Setelah kemarin resmi jadi anak kos, diiringi doa dan bekal petuah orang tua, ku siap jalani hidup baru sebagai mahasiswa UPI, jurusan Pendidikan Geografi. Hampir semua keluarga dan sahabat mewanti-wanti agar ku tak salah langkah, kampus kadang-kadang buat akhlaq jadi tak bagus, pandai-pandailah memilih teman, begitu kata salah satu paman padaku. Dekatilah mesjid, karena ia hanya di datangi oleh orang-orang yang tak lupa pada Rabb-nya. Percayakah kalian dengan kekuatan doa?? Bila belum mulailah untuk percaya, Dan atas kekuatan doa menuntunku pada jalan-Nya yang nyata.
Registrasi mahasiswa baru kala itu ku jumpa dengan guide pertama dalam jalan perubahanku. Raihana. Gadis yang baik, dan dia seorang akhwat. Parasnya manis dan anggun. Dia teman baruku yang pertama. Karena sama-sama maru di jurusan pend. Geografi kami sering pergi kemana-mana berdua, kebetulan tugas ospek kami tak sedikit, kami jadi sering pergi ke sana-sini bersama. Obrolan hangat dengan sendirinya terjalin akrab, tentang keluarga, kenapa masuk UPI, dan ya begitulah, yang namanya ngobrolkan sering tak berjudul. Dan,,,
“Eh, kamu lulusan pesantren ya, Na?” tanyaku.
“Ga, aku nak SMA di Majalengka.” Polos. “Kamu SMA mana, Din?”
“Aku di aliah, say?” jawabku datar.
Sedikit membelalakan matany, Hana hanya bilang, “Oh,,,” mungkin dia heran kenapa penampilan kami seperti terbalik, aku yang harusnya berpenampilan rapih dengan jilbab panjang dan berok manis malah berjins dan berkemeja standar, pake kerudung tipis yang kurang paripurna menutup aurat (Baca: kerudung paris). Sedang Hana berpenampilan sama dengan teman-teman ku di pesantren dulu.
“Na, aku kadang suka heran, kadang-kadang anak SMA itu melebihi anak pesantren.” ujarku padanya.
“Hmm, maksudnya gimana?? Lebih apanya??”
“Iya, kadang-kadang kami lebih cuek dibanding kalian dalam hal berbusana. Kadang-kadang kalian lebih rapih dalam berjilbab daripada kami. Contohnya kita.”
“Oh,,, itu hanya dalam tampilan saja. Padahal aku khususnya, masih sedikit tau tentang agama, beda jauh dong sama kalian.”
“Nah itu keheranan ku. Sebagian kami yang sedikit-banyaknya tau mengenai agama malah berpakaian seadananya. Sedangkan kalian lebih ‘waw’ dibanding kami.”
“Banyak yang bilang kami itu kaya muallaf.” Kening ku kerutakan tanda kurang paham pada jawaban Hana barusan.
“Ya, muallaf yang udah muslim, yang asalnya kami buta hijab trus dapet hidayah lagi untuk menutup aurat, hati kami tergerak untuk sempurna dalam berjilbab. Ga nanggung.”
Aku diam. “Din, kenapa?? Maaf!! Omonganku ada yang salah, ya?”
“Ih… ga apa-apa kok, Na!.. aku Cuma lagi mikir aja, omongan kamu ada benarnya.”
“MMhhh,,, bikin was-was aja. Kamu juga dah bagus kok, yang penting menutup aurat”
Ya, betul yang penting menutup aurat. Begitu fikirku. Ada yang kontra. Hatiku seperti digedor. Ada yang salah.
Perbincanganku dengan Hana memmbuatku berfikir. Ku tafakuri kembali Quran surat An-Nur ayat 31. Kuhafal di luar kepala, tapi orang lainlah yang mengamalkannya. Kekalahan, merupakan suatu kemunduran bagiku.
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasannya,,, (Q.S. An-Nur:31)
Astagfirullah, ampun aku ya Rabb… sedikit demi sedikit ku berevolusi, ku usahakan semampuku untuk tak lagi mengenakan celana panjang saat ke luar rumah. Untung persediaan rok milikku lumayan banyak, kebetulan pesatren kami dulu tak menghendaki santrinya memakai celana, atau pakaian yang menyerupai laki-laki lainnya.
Hana mengenalkanku pada banyak temannya, para wanita surga dengan jilbab panjang sebagai mahkotanya, di dekat mereka aku tenang, selalu ada kesejukan dalam setiap canda gurau kami. Ku diajak mengikuti berbagai kegiatan di mesjid. Ada sedikit rasa minder menghantuiku, serasa jadi aneh, berada diantara jilbaber sedangkan aku hanya berkerudung standar.
“Ih,, Dina mah malu bareng kalian teh!”
“Oh,, punya malu? Kirain lupa naro? Hehehe! ‘Afwan, ya? Kidding!!” canda Hana menggodaku.
“Ih,,, dasar!” kucubit lengannya yang tak berdaging.
“Malu kenapa gitu, Din?” tanya Balebat pada ku.
“Tuh, liat! Kerudung kalian panjang-panjang, aku?” kuakui.
“Ya ga apa-apa atuh! Jadi diri sendiri aja, iya ga?” Balebat minta persetujuan.
“Betul, betul, betul!” kata Hana sepakat.
Kami berbincang di pelataran mesjid kebanggaan, Al-Furqan. Ada seberkas cahaya, bawa hatiku terus bergerak dekati ridlo Ilahi.
***
Sendari tadi kumematut diri, di depan cermin yang dari tadi ada aku di dalamnya, aku yang ingin jadi baru. Tak ada yang kebetulan dalam dunia ini, semua telah dirancang sempurna oleh Pemilik Alam Raya, Dialah Penulis skenario kehidupan tiap manusia di jagat. Kerudung-kerudung yang kubeli dulu, yung ku sesali itu karena mereka terlalu kecil untukku. Meski aku tak begitu idealis masalah jilbab, tatap saja aku takan mau bila harus memakai kerudung yang tidak menutupi pundak. Karena ingin kuatku untuk berubah, ku jadikan kerudung imut tadi sebagai lapis dari kerudung-kerudung tipis yang sering kupakai kemarin, sehingga mereka tak lagi transparan, takkan ada bayangan leher saat cahaya mentari soroti aku secara langsung, ku juntaikan kerudung melebihi dari biasanya, kukenakan gamis manis yang lama tak kupakai, manset yang kemarin kubeli kukenakan di tiap pergelangan tanganku, kaos kaki senada juga tutupi kaki-kaki ku. Inilah aku yang baru. Sekali lagi kubercermin. kubacakan doa itu setulus hati. Ku tersenyum pada bayangan yang ada disana, dengan membaca Bismillah, dengan ini kusiap jalani hari.
Alam serasa ikut bersuka, mentari sambut hariku, udara sejuk segarkan raga, langkahku seakan ringan. Ini hari yang baru dalam lembar baru dan semangat perubahan kini lahir dalam jiwa Dinamika Putri Aisyah.
“Dina, subhanalla!” Sapa Hana di awal kami bersua.
“Cantik, ga?” iseng kutanya.
“Banget, Din!! Selamat, ya! Barakallahulak!”
“Amin, insyaallah.”
Kami berpisah karena kami memang beda kelas, aku kelas B dan Hana kelas A. Ku masuk kelas. Saat memasuki ruang kelas pun sama.
“Assalamu’alaikum, bu Ustadzah” sapa Dara padaku. Anak Palembang itu tersenyum manis menggoda.
“Dina,, cantik nian!” ujar Ineu padaku. Aku hanya bisa nyengir kuda.
Selalu ada ujian di tiap kenaikan tingkat, begitupun dalam perubahan ku. Jalan kebenaran tak akan selamanya sepi, ada ujian yang datang melanda, ada perangkap menuju mangsa. Dan ujian itupun datang. Saat jalan pulang pada Islam ingin segera ku sampai. Saat ingin segeraku teriakan ISLAM IS MY WAY… dengan mudahnya ku merubah, namun sulit kupertahankan.
Selalu ku berdoa dalam sujud tiap kali bersua dengan Tuhan dalam tiap solatku, selalu kumeminta pada-Nya. Rabby, inilah aku, hamba-Mu yang benar-benar lemah. Tak daya aku hidup tanpa bantuan dan kasih dari-Mu. Ku mohon hanya pada Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ampuni aku atas segala dosa yang telah ku perbuat, yang kecil atau yang besar yang ku ingat atau yang telah aku lupa. Aku hamba-Mu yang rapuh, maka ujilah aku dengan nikmat dan rizki-Mu, uji aku agar aku mau bersyukur. Janganlah uji aku dengan kefakiran hingga kudekati kekufuran. Dan tabahkan aku dalam setiap ujian itu.
Entah ini ujian yang indah atau apalah namanya. Rasa hati takkan pernah dusta. Ada seberkas rasa yang ku tau itu apa. Mungkin ku suka dirinya. Qolbu Ihsany, banyak kawan kami yang memanggilnya Kang Qolbu, angkatan 2008, campuran Bandung-Jambi. Lama di Bali. Setidaknya begitulah informasi yang kami dapat saat ospek jurusan kemarin. Begitulah, ia masih kalah ganteng dibanding kang Indra, masih kalah putih dibanding kang Izul, namun sosoknya benar-benar lelaki, tubuhnya tegap, tinggi 180-an, rambut ikalnya dipotong pendek, wajahnya bersih. Gayanya biasa saja, seperti anak geografi kebanyakan, celana PDL, kaos lengan pendek dengan kemeja tanpa dikancingkan. dan aku enak melihatnya. Tipe pria seperti itu yang kuimpikan. Uppss.
Satu yang tak ku lupa, ospek kemarin kami wajib ikut out bond, susur sungailah singkatnya. Takut. Asli aku phobia air, dulu aku coba-coba ikut Paserpal, Paguyuban Santeri pencinta Alam. Dalam perjalanan menuju tempat pelantikan anggota kami mau tidak mau harus menyebrangi sungai yang arusnya tak bisa dibilang tenang, awalnya aku sangat bernyali, namun derasnya air buatku ciut, seperti kerupuk yang disiram air bakso, langsung melempem. Ku coba raih tangan seorang teman namun tumpuaan sang kawan lemah, kami jatuh, kami berdua hanyut, aku bingung, hanya bisa menjerit sekuatnya, maut seakan ku masuki gerbangnya, timbul tenggelam, tubuh dibentur-benturkan ke batu oleh derasnya air, dingin merajang tiap syaraf yang ada dalam raga. Ku limbung, sampai akhirnya kupsarah, namun akhirnya pertolongan Sang Kuasa datang, Miska memang akhwat tangguh, ia berhasil gapai batang pohong pinggir sungai. Alhamdulillah kami selamat.
Dan beginilah aku sekarang, sedikit gemetar bila dengar arus sungai yang gemuruh, wajah agak pucat pasi bila harus lewati jembatan ayang agak tinggi, dan kaki seakan dipereteli saat suara itu mengomando kembali.
“Dipercepat jalannya!!” suaranya geram. “Di geografi kalian dilarang keras untuk manja! Lekas turun!!” begitu sang kaka senior bilang, kang Qalbu. Ku persilahkan mereka terlebih dulu. satu persatu teman satu tim ku mulai masuk ke air. Tinggal aku sendiri yang kakinya masih menapak di darat.
“Din, ayo cepet!” bujuk Hana sang ketua kelompok.
Ku belum cerita tentang phobia ku ini. Mungkin terlalu lama ku berfikir. “Hey, cepat!!” hardik sang senior kembali. Berat, langkahku berat, namun ku coba beranikan diri, ku masukkan kaki ke air, kami berjalan menyusuri sungai, sungguh benar-benar aku takut setengah mati. Bayangan masa lalu kembali, ini medan yang tidak mudah arus semakin deras, kaki semakin berat melangkah. Kami bergengaman erat. Meski kami tau ini perjalanan yang aman karena kami dipandu senior yang pasti selalu ada menjaga. Celakanya kakiku kram di tengah perjalanan. “Hey, kenapa diam?? Cepaaatt!!” katanya sedikit berteriak, suarnya harus berlomba dengan suara gemuruh deras sungai. Ku coba gerakan kaki namun gagal, malah semakin sakit, kakiku membatu, tak ada jalan lain, tak kuat ku mengis rasa takut yang semakin menggila. Ku mulai tak bisa jaga keseimbangan, setengah badan lebih ku mulai tenggelam di air
“Dina,,, hati-hati!! kenapa? Ayo jalan terus?”
“Kaki aku sakit, ga bisa gerak, hiks!” jawabku campur isak.
Isakan ku makin hebat. Dia datang, sang senior datang. “Kenapa?” tanyanya tegas.
“Kaki Dina sakit kang, kram mungkin” seorang kawan menjelaskan.
“To, bantuin, To! Suyanto… buruan!!” hawatir. tugas menjaga tim pindah alih.
Aku dipapahnya ke tepi. Sampai di darat ku tak henti menangis. Takut masih dominasi diri. Kami hanya berdua. Karena akang yang satu lagi pergi memandu timku. Masih dalam keadaan mencekam.
“Dina,ya? Ga apa-apa kan?” tanyanya dengan suara tak setegas tadi. Ku hanya bisa mengangguk. “Kram, bukan?” ku jawab dengan anggukan, lagi. “yang kiri bukan? Sini kakinya saya cek dulu.” Pergelangan kaki dipegangnya, diputar sedikit dan dibengkokkan. “Aw,, aduh!!” kesakitan.
“untung ga terkilir! Lemesin aja dulu, Cuma kram!” ujarnya menenangkan. Seulas senyum tertangkap jelas, penanda ia baik, tak segarang biasanya. Buatku lebih tenang. “Tau ga nama A saipa?”. Ku memutar otak. “Ihsany,,, apa ya lupa?” jawabku cuek. “Qalbu Ihsany”
Begitulah ku mengenalnya. Awalnya biasa, tapi entahlah semua terjadi tanpa disadari, awalnya ku kagumi fisiknya, senang melihatnya dari jauh, mencarinya saat tak nampak ia di hari ku. suatu ketika ku tau dia ada, ku berkumpul dengan teman di loby, saat dia lewat pandanganya tak lurus kedepan, seakan sorotnya mencari aku, atau setidaknya pastikan bahwa itu benar-benar aku. Entahlah aku bingung. GR.
Sampai suatu hari, sedang asik ku sendiri ber-wifi-ria di UPI-Net. Duduk lesehan ditemani sekotak susu coklat. Ku buka facebook, sekedar mengecek dan tentu up-date status. He. Ada dua pemberitahuan, 5 permintaan teman, dan tiga pesan. Ku buka dan kubaca. Tanpa kusadar senyumku terkembang, jilbab merah jambu serasi dengan suasana hati. Penuh bunga dan berwarna-warni. Ihsany Qalbu, kang Qalbu nge-add aku?? Ih,, pucuk dicinta ulam pun tiba!! Segera ku-konfirm saja. Selang tak berapa lama ku baca pesannya…
Dina.. salam kenal, ya!!! ^_^
Obrolan lewat media maya pun berlangsung, tukeran no handphone dan kemudian kami semakin dekat. Ada perasaan bahagia saat terima pesan singkat dari kang Qalby. Entah setan apa yang rasuki aku, fikiran dan mentalku membisikan namanya selalu. Benarkah ini cinta?? Aku jatuh cinta pada seorang gagah bernama Qalbu Ihsany? Segera ku usir sangkaan itu, ku hanya kagumi hanya memuji. Itu saja, tak lebih.
Namun hati tak hanya miliki satu sisi. Terutama hatiku bersegi banyak. Satu sisi ku tak menafikan hadirnya rasa simpati dan kagumku pada kang Qalby, namun dilain pihak kini aku telah berubah, menjadi seorang yang bukan hanya menyandang namaku, tapi ku sandang Islam sebagai jalanku. Ku tak mungkin terus meracuni hati dengan menumbuhkan rasa cinta pada selain Dia. Ku harus malu dengan jilbabku yang sekarang panjang. Ku coba untuk melupakan, sang gagah yang selalu kuidamkan. Ku coba berlari dari rasa ini. Namun mengapa bayangan dia selalu ada di tiap hela nafas dan semakin ku pergi, seakan perasaannya padaku semakin menjadi.
Awalnya ku fikir hanya aku yang kaguminya, dulu kusangka hanya aku yang bersimpati. Kukira hanya pihaku saja yang mendambanya. Tapi setelah lama kami berkomunikasi. Akhirnya kusadari, ada getar dalam setiap pujiannya untukku, ada bahagia yang lain saat ia utarakan kekagumannya padaku. Ku semakin terjerat dalam perangkap yang kubuat sendiri. Perasaan yang seharusnya tak ku biarkan ada kini menjelma jadi raksasa yang buatku lupa pada Sang Kuasa. Ampun aku ya, Rabb.
Sampai nyata-nyata ia bicara. Di Sabtu sore yang berawan, ku ditemani Hana berjalan beriringan menuju loby barat. Disana ada kang Qalbu yang mananti kami, ku khususnya. Tak bermaksud apa, ia hanya ingin meminjamkan rapidonya padaku.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam, lama bener, De” begitu sapanya pada kami.
“He,, maaf, kang! Tadi nungguin Hana kuliah dulu” jawabku polos. Hana hanya senyum-senyum menggodaku.
“Ini rapido tea!” sambil menyodorkan sebuah kotak.
“Ga apa-apa Aku pake dulu, kang?” ia tersenyum dan mengangguk. Ia melihat Hana dan kemudian Hana pergi. Hatiku mulai deg-degan.
“Na mau kemana?”
“Ke toilet bentar ya, Din?” jawabnya sambil kabur.
Diam. Dan kemudian.
“A yang nyuruh Hana pergi dulu”
“Kenapa?”
“Pengen ngomongin hal penting aja sama kamu.” Jawabnya datar. Kami duduk berdampingan, tentu saja ada jarak. “Kenapa gitu, kang?”
“Boleh jujur?” ia menghirup nafas panjang.
Ku mengangguk tanda setuju. Sedikit jeda.
“Ga tau kenapa, pas pertama kali liat kamu, jadi keingetan terus sampe sekarang.” Deg. Ada yang tak beres disini.
“Aku sayang sama kamu, Din!”
Semakin bimbang, aku harus senang atau aku harus beristigfar? Ya, Allah… ada apa ini??
“Jadilah bagian dalam hatiku, jadilah teman ku dalam berbagi. Tuntun aku ke jalan-Nya dengan cintamu, Din!” there’s no sound.
“Aku mohon, Din!” wajahnya mengiba, tangguhnya pujaanku tak nampak lagi, seperti menguap bersama pintanya. Matanya penuh kepasrahan. Kesedihan terlukis jelas di bahasa tubuhnya. Tak sanggup harus bicara, fikiranku tumpul, ku seakan berdiri diantara tak tega dan antara konsistensi ku pada syariah. Bantu hamba-Mu yang sangat lemah ini… ku benar tak tau harus bagaimana, dalam kekacauan hati, mataku mulai panas, tak mampu kutahan. Sekejap ku diam dan sebelum airmata menganak sungai ku pergi, Hana baru kembali. Kuserahkan sekotak rapido tadi padanya, kemudian ku mulai berlari. Sambil biarkan mata ini menangis.
Dari kejauhan samar terdengar. Suara gagah itu memanggilku.
“Dina,,, Dinamika…!!”
Sendiri menyepi, melamun dalam renungan. Ada apa aku? Mungkin ku salah, mungkin ku tersesat, mungkin dan mungkin lagi. Oh Tuhan aku merasa… aku harus bagaimana? Apakah ku terima saja panah cintanya? Dia baik, wakil ketua BEM, punya bisnis sendiri, terbilang mahasiswa cerdas, dan ia begitu sempurna di mataku. Apa yang kurang? Tak ada. Toh aku kan masih remaja, wajarlah bila selalu ingin mencoba. Ini bukan pengalaman pertama ku berjalin kasih dengan kaum laki-laki. Asalkan tidak melampaui batas dan kami pun tidak akan macam-macam, kurasa ini sah-sah saja. Memang sih kang Qalbu bukan tipe-tipe ikhwan yang banyak ku kenal di UKDM. Yang bagus baca Al-Qurannya, yang tinggi ilmu agamanya. Tapi, bukankah ini bisa jadi ladang dakwah untukku. Bukankah suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk mendakwahkan kebenaran pada saudarnya? Tapi bukan demikian. Ini salah.
Ya, aku tau ini tidak benar. Tapi ini sulit. Seperti dua kutub magnet yang sampai kapanpun akan saling tarik-menarik. Ku seakan tak bisa menjauh dari kang Qalbu. Ku tak bisa jika harus tak me-reply sms darinya, ku tak bisa me-rejekc tiap ada telepon darinya. Dan ku tak bisa sembunyikan binar bahagia ku saat bertemu dengannya. Seperti kecanduan, tak bisa ku bila sehari ku tak berjumpa dengannya. Tiap ada waktu senggang kami sering berbincang. Entah itu tentang kuliah, UKM, masalah BEM, masalah agama, sampai kembali ia tanyakan.
“Jadi A ini sebagai apa buat kamu, Din?” jangan tanyakan itu, ku benci pertanyaan menjebak. Kenapa tak nikmati saja dulu kebersamaan kita? Melulu tanyaiku seperti itu buatku pusing. Ku hanya bisa menjawab dengan kebisuan.
“Dina, Jangan bikin A gantung kaya gini.” Sumpah, seperti ada jaringan benang yang mengatup mulutku. Kemudian ia beranjak kehadapanku. Posisi kita lurus berhadapan. Saat ku tegakkan kepala pandangan kami saling bertaut. Ku bisa lihat jelas iris matanya yang hitam pekat.
“Dina…?” dia menodongku dengan tunjukan pengibaannya padaku. Ku harus jawab apa? Tak bisa berbuat banyak. Ku hanya diam.
“Dina ada kuliah dulu, kang! Salamu’alaikum” langkah seribu adalah jurus terjitu saat itu.
“Wa’alaikumsalam” lirih jawabnya.
***
Akhirnya pulang juga. Baru saja pak Dede menutup kuliahnya, ponselku bergetar satu kali, ada sms artinya. Kang Qalbu.
Dah beres, Din? Dmn?
Ya, Masih d kelas… knp?
Ntar turun pake lift yg dket ruang kls km ,y?
Da pa ?
Please, Din.nurut j y!
Iya… iya…
Kubergegas pergi. Menuju pintu lift terdekat. Seperti biasa semua anak pasti menuju pintu lift yang sama. Pasti letih bila harus menuruni tangga dari lantai lima dengan tenaga sisa. Kami antri di salah satu pintu. Berdiri tepat di tengah, jadi saat pintu terbuka ku bisa langusng masuk, dan turun di kloter pertama. Tiga, empat,,, dan lima. Lantai lima. Pintu mulai terbuka. A Qalbu? Sedikit kaget. Sendirian, ngapain? Saat anak-anak lain hendak masuk.
“Tunggu” begitu perintahnya. Semua yang hendak masuk kembail ke posisi semula. Titelnya sebagai panitia ospek tergalak masih berpengaruh.
Kepalanya tertunduk, tiba-tiba membuka kancing kemejanya satu persatu. Aneh, ngapain si? bukan hanya aku, semua teman ku juga begitu. Hanya bisa memperhatikan, perlahan kami lihat tulisan di kaos yang ia pakai. Semua kancing sudah terlepas. Ia singkap dengan bangga, mengangkat kepalanya, tersenyum padaku dengan penuh arti.
DINAMIKA, I LOVE U…!!
Begitu tulisannya. Semua berdecak. Mereka semua ber-cie-cie-ria. Aku malu. Rasa melayang seperti di mimpi.
“Dina!” suaranya yang nge-bass buat aku makin deg-deg an ”Please, be my lady??”
Begitu katanya. Ku hanya terkaget-kaget. Riuh rendah semua kawan dan orang-orang menyaksikan terheran-heran.
“Cie,,, Dina… prikitiw,,,!!”
“Adeyyyy..”
“Terima aja, Din!”
“Iya. terima aja!”
“Terima… terima… terima…” begitu kata mereka saling bersahutan. Sambil bertepuk tangan. Aku malu setengah mati. Mungkin wajahku mulai bersemu merah sekarang.
Ku hanya bisa diam. Dan tiba-tiba seseorang menjorokkanku dari belakang. Hingga hampir saja ku jatuh, tapi tak terjadi. Kang Qalbu menangkap kedua lenganku. Makin ramai suara di luar. Ku yang mulai salting, Hendak keluar kembali. Namun pintu segera ditutup. Baru kali ini kami benar-benar berdua. Ya Allah, ampun!!
“Jadi gimana? Masih ragu? Hem?” tanyanya mempermainkanku.
“Malu-maluin, tau?”
“A berani malu cuma buat kamu”
“Iya,, tapi,,,” kata-kataku tak terselesaikan. Segera ia berdiri di hadapanku.
“Will you be my lady?” setelah semua yang ia lakukan untukku. masih sanggupkah ku menolak? Tuhan. bahkan imanku yang lemah ini masih harus Kau uji??
Ku hanya bisa diam, melihatnya sekilas, kurundukan kembali kepala kemudian tersenyum. Hatiku berbunga. Pintu lift segera terbuka. Segera kuberlari. Menjuah tuk tenangkan diri. Yang terlalu senang ini.
***
Di kosan ku hanya bisa melamun, senyum sendiri saat ingat tragedy tadi. Kalau saja ada orang yang melihat, pasti disangkanya aku orang tak waras. Sungguh perempuan mana yang takkan kegirangan bila diberi kejutan gila seperti tadi?
BINGUNNNNNGGGGGGGGGGGGGGGG……………..!!!!
Di tengah keserba-salahan ponselku kembali berbunyi. Sms. Kali ini bukan dari lelaki gila bernama Qalbu.
Assalamu’alaikum adik2 geografi ’10. Mohon khadiranx ya dlm acara Keputrian jilid 3 dg tema “Ya, Allah Aku Jatuh Cinta…!!!” yg insayaAllah kan dlaksanakn hari Jum pukul 11.00 bsok d ruang 11-IV. Presensi berlaku, n kan mnambah nilai tutorial klian. Diantos pisan. Hatur nuhun!!!
Begitu sms jarkom dari Hana. Menarik. Emang aku masih punya nyali buat kuliah besok? Gimana besok saja lah. Semoga disana bisa kudapatkan jawaban untuk semua ini. Ya, semoga!
***
Dalam sujud ku menangis, dalam sesal ku kecewa, dalam sendiri kurenungi. Aku salah selama ini, ku dosa selama ini, ku terkalahkan nafsu. Ku mau pulang pada-Mu, ku mohon sucikan diriku. Mengapa setelah semua mekar baru kusadar, saat virus itu mulai menjangkit ku tak tahui. Ku terhanyut dalam badai perasaan. Perasaan yang seharusnya kuredam, perasaan yang seharusnya ku bungkam, malah ku agungkan, ku biarkan mengaung di relung-relung hatiku yang kosong, hingga hanya terisi suara-suara bayangan semu dan buat hatiku jadi batu terhadap-Mu. Rabb,, bawa ku kembali di jalan-MU.
Setelah acara keputrian kemarin ku mulai berfikir, tidak sekedar merasa. Sang Maha Cinta benar telah menganugerahkan cinta sebagai fitrah, sebagai karunia seorang untuk mencinta dan dicinta, untuk tertarik dan simpatik, menyayangi dan mengasihi pada apapun dan siapapun. Itulah cinta. Namun tidak sekedar cinta. Banyak orang yang mencintai dengan baik, namun tak semua mampu mencintai dengan benar. baik dalam arti memberi cinta yang tak terkira pada siapa yang dicinta, dan mencintai dengan benar berarti karena Allah saja kita mencintai seseorang. Sepantasnya cinta hanya ditujukan pada Dia, pemilik segala yang ada di alam raya. Namun banyak manusia digelincirkan setan, hingga memandang cinta hanya dari kacamata syahwat, mendekatkan mereka pada zina, yang jelas hukumnya, laknat bagi pelakunya. Dan pendosa adalah orang yang selalu berusaha mencari pembenaran dalam setiap kesalahan. Apakah aku termasuk?? Menjadi pezina hati dan pezina mata. Astagfirullah.
“Na aku bingung. Mesti gimana ke dia?” keluhku pada Hana.
“Bicaralah jujur pada hati kecilmu, suara hati terdalam itu selalu benar, namun karena suaranya kecil, seringkali terkalahkan ego dan nafsu. Hingga manusia tak lagi turut nurani, fitrah manusia berada dalam kebenaranpun turut lenyap. Sebelum perasaannya semakin bertambah. Lebih cepat lebih baik, Din. ” hanya diam. Kujawab dalam hati Namun aku pun mencintainya. Hana segera yakinkan.
“Inget, Din. Cinta yang halal itu hanya setelah pernikahan.”
Ku buka jendela di dini hari, ku hirup udara basah dalam-dalam, dinginnya Cilimus kurasa sejuk, bergerak ku putar keran, mulai berwudlu, tuk hilangkan najis dan bersihkan hati. ku kembali pada Rabb ku, dalam sujud ku berazam. Tuk hanya mencintai Ilahi, yang hanya kan mencinta dan dicinta karena-Nya. Mulai dari sekarang kan ku lupakan perasaan itu.
Tak mudah. Cinta ibarat energi. Dalam ilmu fisika energy berarti daya sesuatu untuk melakukan usaha, ia tak dapat dimusnahkan hanya bisa diubah dan diarahkan, begitupun cinta, tak dapat lenyap sekejap, hanya bisa diarahkan dan diubah, akan dijadikan apa cinta sebagai energi, energi baikkah atau malah energi negative yang merusak? Ku coba sekuat tenaga. Tuk arahkan cinta yang belum sepatutnya itu pada yang benar. ku berusaha sekuatku, tak lagi membalas smsnya, tak lagi angkta panggilannya, dan saat ku tau dia ada ku kan pergi, bukan maksud memutus silaturahmi hanya ku takut, cinta itu kembali. Sama seperti waktu itu. Saat ku tau dia dekat, ku kan pergi menjauh, berbalik arah agar dia tak bisa melihatku. Namun ku gagal.
“Dina,,, dina…” dia memanggilku. Ku berjalan dengan cepat. Gagal. Langkah panjangnya mampu mengejarku.
“Dina, tungggu, Din!” kini ia ada dihadapanku.
Ku coba pergi, tapi dia membayangi. “Kamu kenapa si, Din? Akhir-akhir ini kamu beda, disms ga pernah dibales, ditelpon ga pernah diangkat, kamu kenapa? Kalo a punya salah, a minta maaf!” kasihan, pasti ia kebingungan.
“Maafin Dina, Kang? Bukan maksud Dina untuk memutus silaturahmi, hanya Dina khawatir”
“Khawatir kenapa, Din?” jawabnya memburu.
“Khawatir perasaan ini semakin menjadi, ini tidak benar Kang. Ada yang harus Dina cintai saat ini.” Wajahnya kebingungan.
“Maksud kamu apa? Siapa yang harusnya kamu cintai, hah?” sedikit meninggi nadanya, ada percik marah dalam suara.
“Allah yang harus Dina cintai saat ini. Sudah cukup Dina berdosa karena zina hati. biarkan Dina pergi kembali pada jalan cinta llahi Rabby.”
“Jadi Tuhan mengharamkan hamba-Nya mencintai? Tuhan tak sejahat itu, Din! Tuhan tak seegois kamu, melarang kebebasan seseorang tuk mencinta.”
“Tuhan memang tak melarang, tapi Tuhan punya jalan. Islam punya syariat. Di jalur mana seseorang halal mencintai lawan jenisnya. Akang pasti faham itu.”
“Baik kalau itu yang kamu mau. Terserah!!!” suaranya meninggi, tanda ia murka. ia berbalik arah, pergi menjauh tinggalkan ku sendiri di persimpangan jalan. Ingin kupanggil ia kembali dan memohon maaf. Atas apa yang telah kupilih. Lalu kuputuskan kemanakah ku melangkah.
Sejak saat itu, ku tak pernah berjumpa dengannya. Ia seperti menghilang. Lama kemudian baru ku tau dia kan tamatkan S1-nya di Jepang. Ku syukuri itu. Ku mulai merubah energi cinta itu menjadi energi perubahan, tak mudah dilupakan hingga aku harus cari kesibukan agar kumampu lupakan perasaan bersalah karena telah melukainya. Hingga akhirnya ku ikhlas jika sekalipun harus dibenci seorang Qalbu Ihsany, asalkan ridlo Ilahi menyertai langkahku.
Mulai sekarang ku harus mengubah peta hidup. Ku tak ingin Dinamika yang standar, ku mau jadi pribadi yang dinamis, berubah dari standar jadi luar biasa. Ya, Dina yang baru adalah Dinamika sinergis dengan jalan-Nya. Dan kubertahan dalam perubahanku. Kuselalu mohon ampun atas segala keliru yang dulu. Dan berharap selalu agar seorang gagah disana mampu maafkan aku. Dalam harap tetap kuingin dia.
***
Satu tahun berlalu. Ku berusa tetap dikoridor-Nya. Ku nikmati Islam sebagai jalan hidupku. Ku tak pernah lupakan masa lalu. Biarkan ia jadi guru hidup, dan hikmah untuk masa depan.
Dua hari setelah ujian semester kemarin ibu menyuruhku pulang. Ibu bilang ibu kangen sekali padaku, disamping itu juga ada hal yang ingin ibu dan bapak bicarakan dengan ku. Senang hati aku segera berkemas dan mencari bus.
Dalam perjalanan aku sms beliau.
Bu, teteh berangkat. Mohon doa moga lancar sampe rumah. Tak ada balasan. Mungkin beliau sibuk. Dua puluh Lima menit kemudian ibu menelpon ku.
“Assalamu’alaikum…!”
“Wa’alaikum salam. Teteh lagi dimana?”
“Baru nyampe Padalarang, Bu!”
“Cepet pulang ya, teh. Ada kabar gembira. Heheheh” Ibu bilang dengan riang.
“Ada apa si, bu? Happy banget.”
“Kemaren ada yang datang ke rumah. Ngelamar teteh. Hehehhe”
“Hah?? Ih,,, ga mau ah!! Kuliah baru beres tingkat satu, itu juga belum, tentu lulus, Bu!.”
“Ih,,, jangan gitu atuh. Orangnya ganteng, pinter, mapan lagi! Katanya dia kaka tingkat teteh”
“hah? Siapa, bu?” heran, aneh dan berdebar-debar.
“Namanya,,, mmhhh,, Ihsany,,,” nafasku tertahan.
“Qalbu Ihsany.” Ku tak mampu berkata-kata. Mata berkaca-kaca. Kang Qalbu??
Dari jauh disana ibu memanggil-manggil. Namun tak hiraukan. Kembali ku bertasbih, berhamdalah dan beristigfar. Betapa indah rencana-Mu. Meski tak mudah, ditemani onak dan duri. Namun selalu berujung indah.
Allah hadiahkan kebahagiaan hanya untukku. Saat ku pilih Islam sebagai pedoman.
Langganan:
Postingan (Atom)